Tersesat di Dunia Lain Gunung Lawu Part II

2 dini hari aku sudah terbangun dan mencoba membangunkan teman lainnya. karena kami akan melanjutkan perjalanan ke puncak.  Kami akan melihat matahari terbit diatas puncak gunung lawu. Sebelum meninggalkan desa, kami menjemput mbak rani.  Ada yang aneh dari mbak rani, sekarang dia seperti wanita penghuni desa tersebut. Dia terlihat memakai kebaya dan perutnya menjadi buncit seperti hamil. Kami pun mulai merasa ada keanehan  yang terjadi.

Bertemu Dengan Tentara Hitam Gunung Lawu

Kami mencoba mengajak mbak rani untuk tetap ikut bersama kami. Tapi dia menolaknya dan bilang sedang tidak enak badan. Dia berkata akan menunggu kami di desa ini. mbak rani seperti mengisyaratkan kami untuk segera meninggalkan desa tersebut. Akhirnya dengan terpaksa, kami meninggalkan mbak rani dan berjalan menuju ke puncak gunung lawu.

Perjalanan kami menuju ke puncak tidak mudah. Di tengah jalan, kami merasa sedang diawasi oleh banyak mata. Di atas pohon terlihat seperti ada banyak laki-laki yang sedang mengawasi kami. Apakah mereka perampok yang biasa berkeliaran di gunung lawu? Mereka terlihat hitam menyeramkan dengan tatapan mata yang tajam. Tiba-tiba semua tentara tersebut turun dan menghadang kami.  Tatapan mata yang menyeramkan membuat kita ketakutan. Kami hanya bisa menunduk ke bawah menuruti kemauan mereka.

Aku mencoba melirik, melihat seperti apa sosok orang didepan kami. Terlihat aneh dan menyeramkan. Mereka seperti tentara dengan postur tubuh tinggi dan memiliki leher yang sangat panjang. Mereka semua membawa pistol dan menodongkan ke kami. Salah satu teman kami mencoba untuk memohon dan melepaskan kami. Tapi sia-sia saja, mereka tidak mengindahkan ucapan sama sekali. Karena ketakutan bagus, mencoba melarikan diri.saat dia melarikan diri, tentara tersebut langsung menebak di kepalanya.

Melihat hal itu, kami berempat semakin ketakutan. Kami dibawah ke sebuah tempat yang menyeramkan. Di samping kanan kiri terdapat banyak ular dan orang seperti sedang semedi. Tentara tersebut marah kepada kita karena naik ke atas puncak. Tiba –tiba terdengar teriakan, lahir, lahir, telah lahir. Dan  terlihat kepala adat dari desa wanita datang ke tempat tersebut dengan membawa seorang bayi. Mungkinkan bayi yang dikandung mereka adalah bayi yang diserahkan ke tempat ini?

Mas agung terus memohon untuk dilepaskan dan berjanji untuk tidak melakukan hal aneh. Namun hal itu membuat tentara semakin marah dan menembak mati mas agung. Tinggal kami bertiga yang tersisa, kami tetap diam dan tidak berani berucap sepatah kata pun. Tentara itu berkata, kami akan mengampuni kalian dan silahkan pergi. Ikuti petunjuk yang diberikan. Kami bertiga langsung berlarian keluar dan seperti tidak memikirkan satu sama lain.

Saat perjalanan turun ke bawah, aku memikirkan perkataan tentara tersebut. “ikuti petunjuk yang diberikan” kemudian aku mencoba melihat ke atas dan melihat bulan purnama yang sangat terang. Aku pun mencoba untuk mengikuti bulan purnama tersebut. Jalan terjal aku lewati tanpa melihat belakang sama sekali. Suasana gelap  membuat mata tidak melihat kondisi jalan sama sekali

Setelah berlari cukup jauh, aku melihat cahaya dari desa wanita hamil tadi. Mbak rani terlihat sedang menunggu kami. Dia menyuruh aku untuk segera keluar dari desa tersebut, setelah melewati gerbang lanjutkan perjalanan lurus  ke bawah, tidak usah melihat ke belakang sama sekali. Saya mengajak mbak rani untuk ikut, tapi dia nggak mau. Karena sudah tidak bisa meninggalkan desa ini lagi.

Aku langsung meninggalkan desa dan turun ke bawah. Aku melihat petani yang sedang mengurus lahannya. Aku langsung bersyukur dan meminta pertolongan.  Petani mendekati aku dan bertanya apa yang terjadi. aku diantar diberi teh hangat dan makanan. Setelah itu bercerita apa yang terjadi. kata mereka tentara tersebut adalah tentara hitam yang menunggu gunung lawu.

Leave a Reply