Kimpoi demi pesugihan putih tak senyaman istilahnya. Yakin mau melakukannya?

Menjadi melarat tentunya bukan pilihan yang nikmat. Kemana-mana selalu didera pertanyaan dan iri hati pascadicemooh. Pastinya hal tersebut tidak mengenakkan batin. Hal itu pula yang aku alami, merasakan ketidaknikmatan menjadi orang miskin. . Apalagi sampai saat ini, aku belum mempunyai teman hidup. Pikirku, setelah mendapatkan uang cukup, profesi hina ini akan kutinggalkan. Bukannya aku tidak ada usaha, namun beragam cara telah kulakoni. Bekerja menjadi kuli hingga mencoba peruntungan dengan mengemis. Sayang, hal tersebut membuatku semakin tidak nyaman. Tapi dari mengemis itu pula, cerita jalanan dan dunia pesugihan kudapati.

Seorang teman mengajakku mengikuti ritualnya menjajal pesugihan putih di Jakarta. Awalnya, aku tidak mempercayai hal itu. Tapi siapa sangka jika temanku memang memperoleh kekayaan dengan cepat. Pesugihan putih boleh dikatakan sebagai jalan memperkaya diri namun meminimalisir kerugian pada diri dan durasi.

Setelah memantabkan diri, aku pun pergi bersama temanku ke gunung kemukus. Hampir orang yang aku temui di gunung tersebut tidak ada yang saling sapa. Kemungkinan besar, mereka ingin menutupi tujuan mereka dan hanya berkata “ingin berwisata”. Dalih itu pun aku rasa paling manjur untuk menutupi jati diri termasuk identitas.

Prosesi

Tidak berbeda jauh dengan prosesi pesugihan Gunung kemukus yang tenar, aku pun melakoni hubungan badan. Bedanya, aku tidak melakukan itu dengan manusia, tapi dengan jin baik. Sebelum dijodohkan, aku melakukan ritual mandi di sebuah sendang bersama seorang dukun. Ia memberiku wejangan dan juga nasehat bahwa segala sesuatu akan aku tanggung sendiri. Serta, aku memperlakukan istriku yang berwujud jin itu dengan baik pula.

Seketika setelah rapalan dan mandi dilakukan, sesosok wanita berbaju putih pun terlihat. Gambarannya seperti wanita yang aku idamkan. Ketika ia melihatku, ia pun mengucapkan salam dan mencium punggung tanganku. Seketika itu, Sang dukun berkata bahwa prosesi pernikahan selesai dan aku berhak membawanya pulang.

Datang dan Perginya Harta

Berbeda dengan istri manusia, istriku hanya ada pada saat malam. Ia sama sekali tidak berbicara dan hanya menunjuk beragam kotak. Isinya adalah uang dan beragam perhiasan. Beragam benda tersebut aku jadikan modal untuk membukan bisnis onderdil dan segera kehidupanku berubah. Aku berani merusak harga barang di pasaran sehingga sainganku harus gulung tikar. Harga promo juga sering tertempel di depan tokoku dan segera banyak pembeli berdatangan. Sayangnya, beberapa perubahan fisik muncul pada diriku dan istri ghaibku.

Aku terkena penyakit yang tidak dapat didagnosa dokter. Benjolan besar di leher kiri. Dokter hanya memprediksi kelenjar getah bening meski pemeriksaan lab tidak menunjukkan tanda-tanda itu. Anehnya, benjolan itu tidak membuat lemas badan, sebaliknya, kekuatan dan hasratku bekerja semakin tinggi. Berbeda dengan keadaanku, istriku muncul dengan wujud yang menyeramkan. Separuh wajahnya terburai seperti korban takbaran. Sedangkan tangannya hancur sebelah. Ternyata, pemandangan seperti itu selalu kualami setiap malam. Ia mengawasiku tanpa henti. Itu membuatku ketakutan setengah mati. Rasanya ingin menolak keberadaannya, tapi wejangan sang dukun masih terngiang.

Aku pun memberanikan diri mendatanginya yang berdiri di pojokan kamar. Aku menggandengnya untuk tidur. Dengan rasa takut, aku mengkimpoinya. Bau busuk tak tertahankan keluar dari sela luka di wajah dan tangan. Namun sekuat tenaga kutepis aroma itu. siksaan itu mau tidak mau harus kujalani demi mendulang harta. Jika aku meninggalkannya, karma buruk akan kuterima.

Leave a Reply