Mitos Larangan Membangun Rumah Tingkat di Ciamis

Ada banyak mitos yang beredar di masyarakat indonesia. di setiap daerah memiliki mitos yang berbeda-beda. Kali ini kita akan membahas mitos larangan membangun rumah tingkat di ciamis jawa barat. Salah satu kampung di ciamis, warganya tak bernai membuat rumah  beringkat atau lantai dua. Karena dipercaya bisa menimbulkan mala petaka bagi penghuninya.

Mitos ini dipercaya oleh masyarakat dusun karangkamulyan, desa karangkamulyan, kecamatan cijeungjing, ciamis jawa barat. Kampung ini lokasinya dekat dengan situs ciung wanara, karangkamulyan. Mitos ini sudah ada sejak dulu dan sampai sekarang masih dipercayai oleh  semua warga. Konon katanya ada unsur mistis yang mendukung mitos tersebut. Sehingga  banyak orang yang percaya.

Mitos ini berhubungan dengan sejarah kerajaan galuh ciungwanara. Galuh artinya satu keagungan kedudukan paling atas. Galuh juga berarti permata atau hati nurani. Galih melambangkan sebuah kejujuran, tak sombong, jangan angkuh dan hati yang murni.

Dari situlah, kenapa mitos membangun rumah bertingkat di ciamis tersebar. Bila warga membangun rumah dua lantai, berarti telah melebihi posisi galuh. Karena desa ini terdapat petilasan kerajaan galuh yang memiliki posisi  paling tinggi. Semua warga mengetahui hal tersebut dan mematuhinya. Sehingga warga tidak berani membangun ruamah dua lantai.

Peninggalan kerajaan karangkamulyan dianggap mulia oleh masyarakat sekitar. Membuat smeua warga tidak angkuh dan sombong. Membangun rumah tingkat bisa diartikan sebuah kesombongan. Walaupun maksud membangun rumah tingkat  bukan untuk menyombongkan diri. Semua warga melestarikan dan memelihara tradisi tersebut. Terus dikenalkan secara turun temurun. Pantangan tersebut dipatuhi  oleh semua warga desa karangkamulyan.

Dulu pernah ada warga yang melanggarnya. Dia membangun rumah dua tingkat di kampung tersebut. Keluarga tersebut langsung mendapatkan musibah setelah proses pembangunan selesai. Pemilik tersebut tewas setelah berkendara sampai menabrak lima orang. rumah tersebut sekarang telantar dan tidak digunakan sama sekali.

Ada banyak cerita lain orang yang melanggar pantangan. Ada yang meninggal karena kecelakaan, usahanya bangkrut, rumah tangganya hancur dan lain sebagainya. Sejak saat itu semakin dikit warga yang takut melanggar mitos tersebut. Benar tidaknya hal itu memang tidak bisa dipikirkan secara nalas. Namun  hampir semua rumah bertingkat di dusun ini tidak digunakan dan tinggalkan pemiliknya.

Jadi bila ada lahan kosong, lebih baik dibesarkan. Jangan dibuat rumah bertingkat. Setiap kepala desa di dusun ini juga  tahu mengenai larangan tersebut. Setiap ada warga yang membuat rumah bertingkat, langsung mengalami musibah dan rumah ditinggalkan begitu saja. larangan ini sudah melengkat dengan semua masyarakat dan hampir semua warga mematuhinya.

Benar atau tidaknya mitos ini kita memang tidak pernah tahu. Namun mitos ini sudah dipercayai secara turun temurun oleh semua warga. Tidak ada orang yang berani melanggarnya.setiap membangun rumah, pasti memilih rumah tapak satu lantai. Tidak berani membuat rumah dua lantai, karena takut akan adanya musibah yang menimpah.

Semuanya memang dibalik kuasa allah swt. Kita tidak tahu kebenarannya. Namun tidak ada salahnya untuk mempercaya adat istiadat yang ada di desa tersebut. Namun filosofi dari mitos ini sangat bagus, karena kita dilarang sombong dan angkuh. Harus selalu rendah hati dengan membangun rumah tingkat satu. Karena di dunia ini, kita harus sederhana dan tidak boleh sombong.

Itulah sedikit cerita tentang mitos larangan membangun rumah bertingkat di ciamis jawa barat. Apakah di desa anda ada mitos yang dipercayai turun temurun?

Leave a Reply