Misteri Pesugihan Si Bapak Warung Sederhana, Cukup Tragis

Pesugihan atau penglaris adalah satu hal yang sudah menjadi biasa bagi kalangan para usahawan yang ingin usahanya laris manis dalam waktu singkat. Apa sebenarnya pesugihan itu? Pesugihan adalah meminta bantuan setan atau makhluk ghaib dalam mendapatkan harta dalam waktu yang singkat. Sebagai contohnya, pemilik usaha warung makan yang memutuskan untuk pergi ke dukun agar warung makannya banyak pembelinya. Tetapi yang namanya kerjasama pastilah ada timbal baliknya. Seperti halnya apabila kita ingin membeli barang. Untuk mendapatkan barangnya, kita harus rela mengeluarkan sejumlah uang. Begitupun pada saat kita memutuskan untuk memakai penglaris. Ada beberapa pantangan yang harus dihindari bahkan ada pula yang meminta tumbal. Seperti kisah dibawah ini.

Di daerah jawa, pastinya yang berjualan makanan sudah sangat banyak. Bagi para pemula dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan untuk bisa laris manis dan mendapatkan banyak pelanggan. Tetapi, ada pula yang tidak ingin melewati jalan itu dan memilih jalan pintas dengan menggunakan penglaris. Seperti bapak yang sederhana ini. Warung makan yang dimilikinya begitu sederhana. Tempatnya hanya terbuat dari bambu dan masakannya hanya masakan rumahan saja dan tidak ada yang menjadikannya spesial. Pada awal pembukaan, warung makan terlihat sepi. Jika ada yang masuk, paling hanya satu sampai 10 orang saja. Tentu saja hal itu membuat pemilik warung memutar otak.

Entah apa yang dipikirkannya hingga ia memutuskan untuk menggunakan penglaris. Semenjak menggunakan penglaris, warung makannya menjadi banyak peminatnya. Terkadang, sampai ada yang rela antre hanya untuk dapat makan di warung si bapak. Yang lebih mencengangkan lagi, warung ini sering dijadikan tempat pemberhentian bus yang mengangkut banyak penumpang. Meski tambah laris dari hari ke hari, nyatanya pemilik warung masih tetap kekeh tak mau membangun warung makan yang baru dan masih setia dengan warung bambu lamanya. Tentu saja kelarisan warung membuat decak kagum orang yang bertanya tanya apa sebenarnya resepnya.

Yang namanya manusia memang tak pernah ada puasnya. Tetapi, mereka suatu saat pastinya akan sadar jika yang dilakukannya salah. Begitupun bapak warung makan sederhana. Ia merasa meski kini ia menjadi orang yang sukses, tetapi kenyamanan hati tidaklah didapatkan. Demi mendapatkan apa yang ia mau, si bapak memutuskan untuk naik haji. Padahal, salah satu pantangan dari pesugihan yang dilakoninya adalah menjalankan ibadah haji. Lalu, adakah karma yang akan menantinya? Tekadnya sudah bulat. Si bapak berangkat ibadah haji bersama keluarga besarnya dan ia memutuskan untuk mengakhiri penglarisan yang dilakoninya selama bertahun tahun lamanya.

Sudah paham tentunya bahwa sebuah pesugihan pada akhirnya akan mendatangkan karma yang dapat merugikan pengikutnya. Hal itu juga terjadi pada si bapak. Sepulang dari haji, ia jatuh sakit. Hampir setiap hari ia keluar masuk rumah sakit. Tetapi penyakit yang dideritanya tak kunjung dapat dideteksi. Tubuhnya makin hari makin kurus kering dan jika dilihat hanya tinggal tulang belulang saja. Sekaya apapun, saat sakit selama beberapa waktu lamanya, hartanya pastilah juga akan terkuras. Sudah butuh biaya besar namun kini warung makan si bapak sudah tak seramai dulu.

Yang lebih mengenaskan lagi. Si bapak yang hanya tinggal berbungkus kulit, jika sakitnya sedang kumat, ia akan menggigit sendiri bibirnya hingga berdarah. Tak tega rasanya melihatnya. Sampai sampai, anak yang merawat memutuskan untuk memberi si bapak sendok agar saat menggigit bibirnya tidak sampai terluka dan berdarah darah. Belum lagi, ada kalanya si bapak seperti kerasukan setan karena tubuhnya kejang dan matanya melotot seperti mau copot. Sungguh penderitaan si bapak yang tak kunjung usai hingga akhirnya selang berapa tahun si bapak meninggal dunia. Cerita yang mengenaskan sekaligus menjadi pelajaran agar kita sebagai manusia tetaplah harus bersyukur dengan apa yang tuhan berikan. Lebih baik menderita di dunia daripada harus menggadaikan iman dengan harta yang bisa habis kapan saja.

 

Leave a Reply