Kutukan Gara-Gara Memindahkan Batu Nisan

Aku bernama parjino, seorang pedagang buah di pinggir jalan dan hidup di desa terpencil. Saya akan menceritakan, kisah yang pertama saya alami sekitar 3 tahun yang lalu. Mungkin kisah ini bisa menjadi pengalaman buat anda dan mengambil hikmahnya. Bahwa kita tidak boleh saling menganggu urusan dengan makhluk hidup lain yang tak terlihat. Cerita ini berawal, gara-gara memindahkan batu nisan di sebuah kuburan.

Sakit Yang Tak Pernah Sembuh

Setiap bulan, di desa saya selalu mengadakan kegiatan kerja bakti. Kegiatan ini dilakukan setiap minggu kliwon. Yang dibersihkan tidak hanya sekitar kampung, tapi juga pemakaman (kuburan) di desa kami. Membersihkan rumput yang tumbuh, menyapunya dan membersihkan dahan yang kering. Kegiatan ini memang selalu rutin diadakan. Dipilih minggu kliwon, supaya jumat kliwon minggu selanjutnya keadaan pemakaman sudah bersih dan bisa dikunjungi para warga yang ingin ziarah ke sanak keluarganya.

Kejadian ini terjadi sekitar tahun 2014. Semakin kesini, pemakaman memang semakin penuh banyak jenazah yang dikuburkan disana. Karena memang pemakaman ini sudah berdiri sejak lama. Pada acara kerja bakti itu, mas sumadi menyuruh untuk memindahkan batu nisan, yang sudah jarang didatangi berziarah dan tidak tahu siapa ahli warisnya. Supaya bagian itu, bisa digunakan untuk mengubur jenazah lain yang meninggal nantinya.

Tujuan memindahkan ini sebenarnya baik, karena untuk meminimalisir penuhnya pemakaman. Setelah didiskusikan dengan warga lain, akhirnya semua orang setuju untuk memindahkan beberapa batu nisan yang sudah tidak terawat dan tidak ada ahli warisnya lagi. Saya dan mas sumardi mencoba mengangkat batu nisan tersebut, didekat sungai yang tak jauh dari pemakaman. Kurang lebih ada 5 nisan yang kami pindahkan.

Cerita gara-gara memindahkan batu nisan ini masih berlanjut. Mas sumardi sampai susah bernafas, karena membawa batu nisan terlalu berat. Bahkan ada batu nisan yang terbuat dari batu kali. Sehingga terasa lebih berat, saat dipindahkan. Setelah selesai memindahkan semuanya, saya dan mas sumardi mengambil semua alat yang digunakan untuk bersih-bersih dan bergegas untuk pulang.

Sampai rumah, saya langsung membersihkan diri dan shalat. Malam harinya, ketika tidur tubuh saya terasa panas dingin. Seperti orang sedang demam. Saya berpikir, mungkin kecapekan, akhirnya memutuskan untuk segera tidur, walaupun jam masih sekitar setengah sembilan. Ketika tidur, saya bermimpi dikunjungi oleh 2 orang kakek yang memakai baju serba putih. Pakaiannya, seperti ulama zaman dulu. Dengan memakai surban sebagai penutup kepala.

Beliau berkata dengan bahasa yang sulit dimengerti. Yang saya pahami, mereka bertanya di mana letak rumah mereka. Saya tidak bisa menjawab, karena memang tidak tahu siapa mereka berdua dan di mana rumahnya. Sekitar jam 2 dini hari, saya terbangun dalam keadaan tubuh semakin parah. Panas dingin sampai menggigil. Diberi obat penurun panas dan teh hangat pun tidak memberikan efek sama sekali. Selama hampir 3 hari, saya tidak bisa tidur nyenyak. Badan sakit dan setiap tidur selalu bermimpi didatangi oleh 2 kakek yang menanyakan rumahnya.

Saya pun memutuskan untuk periksa ke puskesmas. Di puskemas bertemu dengan mas sumadi yang juga merasakan hal yang sama. Bahkan mas sumadi sampai tidur mengigau karena merasa terancam. Kami merasa bahwa ada suatu hal yang tidak beres. Akhirnya kami memutuskan untuk bertemu dengan sesepuh di desa kami. Kami berdua menceritakan semuanya yang terjadi. Sesepuh berkata, kalau memindahkan batu nissan tidak boleh sembarangan. Kalau pun ingin memindahkan harus ada upacara dulu sebagai tanda penolak bala.

Akhirnya dibantu dengan warga, kami memutuskan untuk mengembalikan batu nisan yang telah kami pindahkan. Tapi anehnya, setelah semua batu nisan dipindahkan. Tubuh saya terasa lebih sehat,bahkan seperti tidak habis sakit sama sekali. Saya tidak tahu, apakah sakit itu memang gangguan dari makhluk halus gara-gara memindahkan batu nisan atau tidak. Yang jelas kita harus saling menghormati dan menghargai makhluk halus yang tak kasat mata. Kalau kita tidak menganggu mereka juga tidak mengganggu.

Leave a Reply