Kisah Mistis Dibalik Ritual Satu Suro di Sendang Sidukun

Di Indonesia khususnya di daerah Jawa hingga kini masih meyakini akan adanya hari-hari keramat untuk melakukan suatu ritual khusus. Mereka percaya bahwa pada hari itu mempunyai aura yang berbeda dengan hari-hari yang lainnya. Ritual yang dilakukan juga mempunyai beragam tujuan, seperti untuk memperoleh keberuntungan, kesejahteraan, kemakmuran hingga pesugihan dan pemujaan. Namun tak jarang juga ritual yang dilakukan adalah untuk meneruskan tradisi nenek moyang yang sudah melakukannya turun-temurun bertahun-tahun yang lalu. Salah satu contohnya adalah tradisi perayaan yang dilakukan pada malam satu suro di Sendang Sidukun.

Sendang Sidukun merupakan sebuah sendang yang mempunyai mata air jernih yang juga menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat setempat. Sendang ini tepatnya berada di Desa Traji, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung. Ritual yang dilakukan tepat pada malam satu suro ini dilakukan dengan menguras sendang yang berukuran 9×25 meter dengan kedalaman kurang lebih 2 meter. Acara puncak dari ritual ini adalah mengkirab lurah dan istrinya dari kediamannya menuju ke sendang untuk mengadakan ritual inti yang kemudian dilanjutkan ke Balai Desa yang disana merupakan tempat digelarnya wayang kulit semalam suntuk. Ritual ini selain untuk meneruskan tradisi yang sudah berjalan ternyata mempunyai kisah mistis dibaliknya.

Kisah mistis yang melatarbelakangi perayaan satu suro

Kisah-kisah diluar nalar memang tak jarang menjadi latar belakang diadakannya suatu ritual atau tradisi tertentu. Salah satunya adalah tradisi di Sendang Sidukun ini. Tradisi ini bermula dari dari sebuah kisah ghoib dalang wayang kulit yang bernama Dalang Garu yang berasal dari Dusun Garon, Desa Traji pada masa lampau. Suatu saat Dalang Garu didatangi oleh seseorang yang berpakaian bangsawan yang mengaku berasal dari Traji yang memintanya untuk mementaskan wayang kulit pada malam satu suro. Setelah Dalang Garu mementaskan wayang, orang yang berpakaian bangsawan tadi membayarnya dengan satu nampan kunir alih-alih membayarnya dengan uang. Meskipun heran, Dalang Garu tidak memprotes dan menerima kunir tadi. Namun ia tak mengambil seluruh nampan ia hanya mengambil tiga buah saja. Ketika hendak pergi, orang tadi berpesan agar Dalang Garu tidak menoleh sebelum tujuh langkah dari tempat itu. Tetapi Dalang Garu tidak mengindahkan dan malah menoleh sebelum tepat tujuh langkah. Saat menoleh ternyata orang tadi sudah menghilang, tempat itu berupa sendang dan tiga kunir tadi berubah menjadi tiga buah emas batangan. Kemudian Dalang Garu tersadar bila orang yang memintanya mementaskan wayang tadi bukan merupakan orang sembarangan sehingga ia datang kepada sesepuh Desa Traji dan menceritakan semuanya sehingga diputuskan bila setiap malam satu suro agar diadakan pentas wayang di tempat itu, yang berlangsung hingga sekarang. Kisah mistis ini tidak pernah surut selalu dibicarakan dari generasi ke generasi.

Ritual ini telah berjalan kurang lebih 200 tahun lamanya setiap malam suro. Hingga saat ini masyarakat percaya bahwa mereka akan mendapatkan rezeki yang melimpah, dagangan laris, tanaman pertanian menjadi subur dan bagi pegawai dapat bekerja dengan baik setelah mengikuti ritual tersebut. Pernah suatu ketika ada rencana untuk menghapus ritual ini namun walaupun hanya berupa rencana ternyata hal ini sudah memberikan efek yang kurang baik. Masyarakat banyak menghadapi kesulitan seperti gagal panen, mengecilnya sumber air dan banyaknya orang sakit. Maka dari itu tradisi ini terus dilestarikan beriringan dengan kisah mistis yang beredar di tengah-tengah masyarakat.

Leave a Reply