Kisah Misteri: Suruh Anak Masuk Ketiga Senja

Senja adalah masa transisi dimana terang akan berubah menjadi gelap. Matahari pun kian melingsir dan pemandangan tersebut nampak indah. Biasanya, kita lebih akrab dengan sebutan maghrib. Masalahnya, orang tidak ada yang tahu bahwa masa tersebuta dalah terbukanya gerbang bagi makhluk astral. Istilah makhluk tersebut sudah banyak disebutkan dalam berbagai kebudayaan. Sebut saja Jawa yang menamainya dengan candik ala (dibaca candik olo). Istilah itu bermakna disambar hal buruk. Meskipun hanya sekedar mitos, namun mitos selalu membawa pelajaran.

Dari sisi ilmiah pun, senja nyatanya memberikan aura lain yang tidak sama frekuensinya dengan aura manusia. Bisa jadi, frkuensi yang tersebut berasal makhluk astral yang sedang mencari lokasi persembunyian. Sampai akhirnya petang, mereka keluar untuk mengganggu manusia. Paling bahaya adalah pancaran senja di peralihan musim panas dan hujan. Baisanya, matahari akan terpancar lebih lama meskipun waktu menunjukkan sore.

Diambil Wewe Gombel

Gangguan makhluk astral ketika sore kebanyakan menimpa bocah dengan usia relatif kecil. Pelaku utamanya adalah Wewe Gombel. Hantu satu ini sudah terkenal kecintaannya kepada anak dan ia akan menyembunyikannya di antara juntaian dada. Dengan disekapnya si anak, orang-orang tidak dapat menemukannya walaupun ia masih disekitaran. Untuk menemukan si bocah, para warga biasanya menabuh peralatan kentongan termasuk perkakas dapur. Satu lagi, si anak akan dicari di sekitar pohon nangka. Pohon tersebut dikenal sebagai rumah si demit.

Apabila si anak tidak ditolong hingga masa laparnya datang. Si anak bisa mendapatkan masalah besar. Kosongnya perut dapat mengakibatkan anak menerima makanan dari si demit. Wujud utama makanan tersebut seperti buah nangka dan sisianya tampak makanan pada umumnya. Dibalik itu, nangka yang diberikan adalah makanan busuk, termasuk nasi dll. Jika si anak menelan buah dan kudapan itu, si anak akan mengalami gangguan jiwa ketika dewasa. Permasalahan lain adalah kemampuan berbicara. Meksipun tidak bisu, si anak seakan mengalami trauma dan menjadi permasalahan pada artikulasi bahasanya. Hal tersebut sebagaimana yang terjadi di kota Brebes.

Di daerah itu, penampakan Wewe Gombel sangat sering terjadi. Bahkan ada anak yang disembunyikan di dalam kentongan masjid. Terpaksa, para warga akhirnya membelah kentongan itu guna mengeluarkan si anak. Oleh sebab itu, pada saat senja menjelang, pastikan anak tidak bermain di luar. Kalaupun di dalam rumah, jangan pernah tinggalkan mereka sendirian. Demit tersebut bisa jadi bersembunyi di bagian rumah ketika senja. Kebanyakan di sudut rumah atau perkakas kotor.

Gendruwo

Selain Wewe Gombel, Gendruwo jika menjadi demit yang suka menyembunyikan bocah. Sosoknya berwujud manusia tinggi besar dan berwarna hitam pekat. Hampir sekujur tubuhnya ditumbuhi oleh bulu dengan gigi taring yang lumayan menonjol. Adapun tatapan matanya memerah dan cukup menyeramkan. Mereka berkeliaran pada saat maghrib tiba dan mencari bocah untuk ia pelihara. Tujuan utamanya, si bocah akan dijadikan budak di tempatnya.

Caranya menyembunyikan anak dengan cara memeluknya. Dengan demikian, manusia biasa tidak akan mampu menembus dimensi dari tubuhnya. Ketika keadaan mulai sepi, ia akan memboyong si bocah ke pohon. Apabila melampaui masa lapar anak dan ia memakan santapan darinya. Efek yang muncul akan sama dengan peristiwa penculikan si Wewe Gombel. Guna menghindari demit yang datang saat senja, sebaiknya anak disuruh masuk rumah. Dan, pengawasan orang dewasa akan menghindarkan mereka dari penculikan demit.

Leave a Reply