Kisah Misteri Kesurupan Penunggu Gunung Pangrango

Walaupun saat ini telah memasuki zaman modern namun kisah misteri tetap saja masih banyak diperbincangkan bahkan masih menjadi topik hangat dikalangan masyarakat Indonesia. Tak terkecuali cerita-cerita mistis yang ada di Gunung Pangrango. Karena seperti yang kita ketahui juga bila Gunung Pangrango merupakan objek pendakian favorit di wilayah Jawa Barat. Jadi tak mengherankan bila hingga saat ini masih beredar beragam kisah misteri dari salah satu gunung yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ini.

Bagi Anda yang sudah sering mendaki Gunung Pangrango pasti sudah hafal spot-spot mana saja yang menjadi spot angker atau “spesial”. Hal ini jelas perlu diketahui khususnya bagi orang-orang yang memang gemar mendaki di Pangrango. Sebab dengan mengetahuinya Anda menjadi lebih waspada dan dapat lebih menjaga tutur kata serta perbuatan. Apalagi di gunung ini sudah sangat terkenal banyak penunggunya seperti yang diceritakan oleh banyak sumber yang tidak lain adalah seorang pendaki. Dan cerita mistik berikut ini adalah salah satu cerita yang berasal dari kisah nyata bersumber pengalaman seorang pendaki di Gunung Pangrango.

Kisah Misteri Penunggu Gunung Pangrango yang Meminta Tumbal

Kala itu ada sekelompok pendaki yang ingin mendaki Gunung Pangrango namun karena cuaca tidak mendukung sehingga mereka menunda perjalanan dan memutuskan untuk bermalam di Kandang Batu dan bukan di Kandang Badak. Sedari awal beberapa dari kelompok pendaki tersebut telah merasakan aura aneh disekeliling mereka, contohnya ketika mereka berhenti di Kandang Batu yang mana terdapat sebuah pondok mereka merasakan bila ada yang sedang mengawasi dan mengintai. Selain itu mereka juga merasakan bila ada bayangan yang hilir mudik di balik pondok tempat mereka berteduh. Namun karena tak ingin menakuti yang lain, mereka memutuskan untuk tak menghiraukan hal tersebut.

Ketika malam menjelang semuanya sudah diberikan instruksi yaitu untuk pendaki laki-laki tidur di pondok, sedangkan pendaki perempuan tidur di depan pondok menggunakan tenda. Dan salah satu dari mereka yang memiliki indera keenam berada di depan tenda perempuan untuk berjaga-jaga sebut saja Herman. Herman duduk bersila membelakangi pondok dan mengaji dengan khusyuk, namun keanehan mulai muncul saat malam menjelang. Sebab Herman tak bergerak sedikitpun dari posisi awalnya setelah sekian lama masih duduk bersila dan membelakangi teman-teman yang lain. Akhirnya beberapa pendaki menghampiri Herman dan menyentuh pundaknya, namun bukannya menoleh Herman malah jatuh dalam posisi duduk bersila seperti orang beku.

Pendaki lain merasa panik sebab mengira Herman mengalami hipotermia, tetapi ketika akan diangkat ke pondok justru Herman menyeringai sambil mengatakan kata-kata aneh “Kalian jangan macam-macam, disini tempatku,” begitu kira-kira yang diucapkan Herman setelahnya dia tak sadarkan diri. Seketika teman yang lain langsung membaca ayat-ayat suci dan berdoa agar tak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Setelah hal tersebut, suasana menjadi aneh, kelompok pendaki tersebut menjadi “terisolasi” sebab tak ada suara-suara selain suara tetesan air dari pondok pun dengan sapaan pendaki lain. Sebab mereka hapal betul bila hari itu banyak pendaki yang berpapasan dengan mereka sewaktu naik gunung.

Kemudian mereka tetap melanjutkan perjalanan seperti rencana awal tetapi Herman masih enggan bercerita mengenai kejadian kemarin yang ia alami. Dan ketika sudah turun gunung Herman mulai membuka suara mengenai kisah misteri yang ia alami, ia mengatakan bila sedari tempat air terjun panas rombongan sudah diikuti oleh makhluk dari bangsa jin dengan perawakan tinggi, besar dan hitam. Ia selalu mengintai dari pinggir hutan, lalu saat malam itu ketika Herman mengaji ia dihampiri dan dibawa ke keraton ghaib yang besar. Rupa-rupanya jin tersebut hendak meminta tumbal dari salah satu rombongan. Namun Herman menolak dan terjadilah perkelahian, di tengah terjadinya perkelahian tersebut datanglah Pangeran Surya yang dikenal sebagai penunggu dan penjaga Gunung Gede Pangrango membantu Herman sehingga jin tersebut tidak jadi meminta tumbal.

Jadi itulah sepercik kisah misteri yang pernah dialami oleh pendaki Gunung Pangrango. Untuk itu sebaiknya jagalah tutur kata dan perbuatan apalagi ketika berada di alam bebas seperti gunung yang mana kita tahu berada di luar “jangkauan” kita. Dan sebaiknya cari tahu terlebih dahulu secara terperinci mengenai gunung yang akan didaki untuk kepentingan bersama.

Leave a Reply