Kisah Misteri Dibalik Pengantin Satu Sura

Setiap daerah pastilah menyimpan cerita yang patut dijadikan sebagai sebuah pelajaran. Seperti halnya cerita mistis yang terbilang fenomenal di desa Traji. Traji adalah salah satu nama desa yang ada di kawasan kecamatan Parakan Temanggung. Apa yang membuatnya menarik dibandingkan desa sekitarnya? Desa ini memiliki satu ritual unik yang selalu dinanti masyarakat setiap tahunnya. Jangan salah, tak hanya masyarakat di daerah Traji saja yang berbondong-bondong untuk melihat ritual tahunan itu, tetapi masyarakat luar desa pun tak kalah penasaran untuk membuktikan bagaimana uniknya ritual yang selalu menjadi buah bibir masyarakat tersebut.

Ritual di desa Traji biasanya diadakan ketika memasuki bulan Sura (Bulan Muharram dalam kalender hijriyah).  Ritual yang diadakan setiap tahun tersebut pastilah membuat warganya gembira karena berbagai tontonan, hiburan, dan penjual akan mudah dijumpai dipinggiran jalan raya. Belum lagi, masyarakat juga bisa mengambil keuntungan dalam ritual tersebut dengan menjual makanan atau menyewakan tempat tinggalnya sementara untuk tempat jualan para pedagang untuk sebulan lamanya. Ditambah pula, pasar malam dan pagelaran wayang yang pastinya akan menambah semaraknya ritual satu  Sura di traji.

Mungkin dalam benak Anda terpikir, bukankah adanya pasar malam dan pagelaran wayang adalah suatu bentuk kesenangan. Mengapa hal tersebut bisa dikatakan mistis? Ritual yang dimaksud tidak pernah terlewatkan di desa Traji adalah ritual sepasang pengantin yang berkeliling sendang Sidhukun pada malam satu Sura. Pengantinnya pun bukanlah pengantin seperti biasanya yang ada dalam kondangan atau pesta. Yang menjadi pengantinnya adalah bapak kepala desa beserta istrinya. Sedangkan, putra-putri dari pemimpin desa tersebut akan berjalan di belakang menjadi pagar ayu dan pagar bagus. Jadi keluarga lurah (panggilan untuk kepala desa) akan berdandan layaknya pengantin setiap malam satu sura.

Bukan tanpa alasan sepasang pengantin tersebut berkeliling sendang (kolam alami).  Konon katanya, ketika lurah tidak menjalankan ritual tersebut dan sengaja melewatkannya, desa Traji akan diterjang oleh angin putting beliung yang besar. Angin besar tersebut akan merusak seluruh rumah yang ada di kawasan desa traji. Bukan hanya itu saja, menurut cerita dari masyarakat setempat, pernah sang lurah sengaja tak menjalankan ritual karena ia tidak percaya. Tetapi, pada malam harinya rumahnya didatangi seekor ular yang besar yang memintanya untuk tetap menjalankan ritual tersebut. Kedatangan ular yang diiringi dengan angin yang besar itupun membuat keluarga Lurah dibuat ketakutan.

Demi menjaga keamanan desa Traji, Lurah beserta masyarakat sepakat bahwa ritual satu sura akan tetap dilaksanakan setiap tahunnya. Pada malam satu Sura, sehabis isya, lurah dan keluarga yang sudah didandani pengantin, berjalan berkeliling sendang sidhukun beberapa kali. Sedangkan, masyarakat Traji sudah berkumpul di sekeliling sendang untuk menyaksikan ritual tahunan tersebut. Kesan mistis semakin ditunjukkan ketika masyarakat menyiapkan kepala kambing untuk dimasukkan ke dalam sendang. Ketika kepala kambing diceburkan, masyarakatpun berlomba untuk memburunya. Konon katanya, siapa yang berhasil mendapatkannya akan bisa menjadi kaya. Sayangnya, sampai sekarang belum ada satupun orang yang berhasil menemukan kepala kambing tersebut. Lalu, kemanakah hilangnya kepala kambing itu?

Tak sampai disitu saja, sehabis ritual pengantin sura dilaksanakan, pagelaran wayangpun segera dimulai. Pagelaran wayang yang diadakan 3 hari berturut-turut itu konon katanya sebagai persembahan untuk roh penunggu desa Traji. Kesan mistis juga semakin terlihat ketika beberapa orang sengaja bertapa di bawah pohon beringin yang berada di dekat Sendang Sidhukun. Para pertapa percaya bahwa ada semacam kekuaatan di sekitar sendang yang akan memberi mereka keberuntungan. Entah itu benar apa tidak, yang terpenting masyarakat sekitar desa tersebut telah menjadikan ritual pengantin sebagai salah satu cara menjaga keamanan Desa Traji dari amukan roh penunggu desa.

Leave a Reply