Heboh, Inilah Artefak Tembok Besar Misterius Dalam Tanah Berusia 3,5 Abad Yang Ditemukan Di Jalur MRT Jakarta

Pekerja yang sedang membuat jalur MRT di Jakarta dibuat heboh dengan penemuan artefak misterius kuno yang berupa tembok besar dan diperkirakan berusia 3,5 abad yang ditemukan menghadang pembangunan Mass Rapid Transit atau MRT fase II antara bundaran HI – kampung Bandan. Tembok itu sendiri berada di bawah stasiun Jakarta Kota yang telah dijadikan lokasi proyek MRT fase II.

Artefak Tembok besar menghadang Jalur MRT dan Pembangunan Dilanjutkan

Menurut ketua Tim Ahli Cagar Budaya pemrov DKI, awalnya menduga tembok besar tersebut merupakan bagian dari benteng Kota yang juga menjadi bagian dari tembok kota Batavia pada masa lampau. Akan tetapi, dugaan tersebut akhirnya diragukan karena setelah diteliti secara lanjut, struktur bawah tanah berupa tembok yang misterius tersebut terdapat banyak temuan lainnya seperti batu kubus besar dan cerucuk kayu dari abad ke-19. Tembok itu sendiri pada awalnya ditemukan saat pembangunan halte Stasiun Kota untuk Transjakarta dan jembatan penyebrangan pada tahun 2006 silam. Diperkirakan usia tembok ini sendiri lebih dari 3,5 abad sehingga menjadi salah satu cagar budaya DKI Jakarta.

Namun, meskipun begitu penemuan ini menjadi dilema karena dalam aturan UU nomor 11 tahun 2010 menyebutkan bahwa cagar budaya adalah warisan budaya yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah. Sehingga, ketua tim ahli cagar budaya tersebut bukan bermaksud ingin menghalangi pembangunan MRT sehingga menurutnya sebagian tembok besar itu harus tetap ada karena pembangunan halte dan jembatan penyebrangan orang sudah sangat merusak tembok besar dikawasan kota pada saat itu.

MRT lintasi wilayah penuh bangunan bersejarah

Dengan kejadian tersebut, maka Adrian sebagai ketua tim cagar budaya DKI memberi masukan kepada PT MRT Jakarta agar tidak mengulangi kesalahan pembangunan sebelumnya. Oleh karena itu, ia menuturkan bahwa lebih setuju untuk menempatkan lokasi stasiun MRT di jalan Pintu Besar Selatan, dekat Bank DKI. Lokasi disana bisa dikatakan cukup aman karena berada diluar area tembok yang berbatasan dengan stasiun Kota. Namun meskipun begitu, kekhawatiran tersebut pada dasarnya juga sudah dirasakan oleh Direktur Konstruksi PT MRT jakarta, Silvia Halim.

Jakarta harus belajar pembangunan infra-struktuk kota-kota tua didunia

Dengan kejadian tersebut, maka sebenarnya Jakarta perlu belajar bagaimana membangun infra-struktur dengan kota-kota lain didunia terkait dengan kendala tersebut. Namun meskipun begitu, Silvia sebagai direksi PT MRT optimis bahwa permasalahannya agar segera teratasi. Pasalnya dinegara-negara lain yang memiliki cagar budaya dibawah tanah tetap membangun jalur dan stasiun kereta. Ia memberikan contoh-contoh tersebut dinegara maju lainnya seperti di Kyoto, Jepang, dan Istanbul, Turki. Dari negara-negara tersebut, Silviani akan belajar bagaimana membangun proyek MRT Fase II.

Ide MRT ini sendiri pada dasarnya telah tercetus sejak lama yaitu pada saat BJ Habibie menjabat sebagai Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Pada saat itu, Habibie melakukan penelitian demi menghadirkan transportasi massal berupa proyek MRT. Namun, pembangunannya masih belum terlaksana meskipun studi beliau sudah dipegang oleh Sutiyoso yang pada saat itu menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta.

Sebenarnya, selama 10 tahun bang Yos melakukan 2 kali studi dan penelitian yang dijadikan pembangunan MRT. Oleh karena itu, pada saat 2004 Bang Yos mengeluarkan keputusan gubernur terkait pola transportasi makro untuk mendukung skenario penyediaan angkutan cepat terpadu dan akan digarap pada tahun 2010. Sehingga pembangunan MRT ini sebenarnya bukan tidak ada studi mendalam dan langsung melakukan proyek tanpa pengkajian. Sehingga, adanya perusakan tersebut hanyalah kesalahan saat melakukan pengkajian.

Leave a Reply