Gunung Krakatau Dan Sejarahnya yang Melegenda

pa yang tidak kenal nama gunung satu ini yang pernah meletus hebat pada masanya. Meski sebenarnya gunung ini sudah tidak lagi ada karena luluh lantah akibat letusannya dan sekarang yang masih tersisa adalah anak Gunung Krakatau yang terus tumbuh dan masih aktif sampai sekarang. Gunung ini terletak pada selat sunda antara pulau jawa dan pulau Sumatra yang termasuk dalam kawasan cagar alam. Namun pernah diketahui juga bahwa gunung ini diambil dari teks jawa kuno yaitu Pustaka Raja Parwa yang diperkirakan berasal dari tahun 416 Masehi yang berisi: “Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada goncangan Bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Lalu datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula. Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatra”

Letusan Gunung Krakatau purba

Pada masa Krakatau purba juga pernah meletus, Ledakan Krakatau Purba diperkirakan berlangsung selama 10 hari dengan perkiraan kecepatan muntahan massa mencapai 1 juta ton per detik. Ledakan tersebut telah membentuk perisai atmosfer setebal 20-150 meter, menurunkan temperatur sebesar 5-10 derajat selama 10-20 tahun. Ledakan besar ini menjadikan kawah besar dan sisa dari ledakan di sisi-sisi tepi kawah menyisakan 3 pulau yaitu Pulau Rakata, Pulau Panjang dan Pulau Sertung

Letusan Gunung Krakatau

Foto udara letusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Minggu (23/12/2018). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan telah terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada Sabtu, 22 Desember 2018 pukul 17.22 Wib dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 1.500 meter di atas puncak (sekitar 1.838 meter di atas permukaan laut).

Pada tanggal 27 Agustus 1883, ledakan mega dasyat terjadi dengan kekuatan ledakan setara 200 megaton TNT, lebih 10.000 kali kekuatan bom atom yang meluluh lantahkan Hiroshima, Jepang di penghujung Perang Dunia II. Karena letusan yang dasyat Gunung Krakatau ini mengakibatkan gelombang tsunami setinggi 40 meter dan juga merenggut banyak korban dari Sumatra dan jawa. Tidak hanya itu saja, gelombang tsunami juga sampai pada bibir pantai Amerika tengah dan semenanjung arab. Semburan debu vulkanisnya mencapai 80 km. Benda-benda keras yang berhamburan ke udara itu jatuh di dataran pulau Jawa dan Sumatera bahkan sampai ke Sri Lanka, India, Pakistan, Australia dan Selandia Baru. Tercatat jumlah korban yang tewas mencapai 36.417 orang berasal dari 295 kampung kawasan pantai mulai dari Merak di Kota Cilegon hingga Cilamaya di Karawang, pantai barat Banten hingga Tanjung Layar di Pulau Panaitan (Ujung Kulon) serta Sumatera Bagian selatan.

Anak Krakatau

43 tahun berselang, pada tahun 1927 setelah letusan dan menghancurkan bentuk dari gunung anak Krakatau, muncul gunung berapi aktif di kaldera dari gunung Krakatau purba yang sekarang disebut anak Krakatau yang terus tumbuh tinggi sekitar 20 inci per bulan dengan ketinggian saat ini adalah 450 meter. Sekarang kawasan dekat dengan anak gunung Krakatau dapat dikunjungi wisatawan dan juga di pakai sebagai cagar alam. Saat ini masih terlihat aman anak ;gunung Krakatau ini sehingga wisatawan dapat mendaki meski hanya sampai 200 meter di pos terakhir. Meski masih terlihat aman anak Krakatau adalah sebuah boom waktu yang bisa kapan saja mengamuk seperti gunung Krakatau sebelumnya.

Gunung Krakatau yang memang menjadi salah satu gunung yang masih aktif sampai sekarang memberikan trauma bagi korban bencana alam yang ada di seluruh dunia.Gunung yang memang terkenal maha dahsyat dengan semburan dan berbagai macam kerusakan yang diakibatkan ini menjadikan kita untuk terus bersyukur dan mengingat Sang Pencipta.

Leave a Reply