Gempa Rinjani Memberikan Trauma Mendalam

Gempa yang terjadi di Gunung Rinjani, Lombok, NTB. Memakan banyak korban jiwa dan terdapat kisah yang memilukan sekaligus membuat para pendaki yang saat itu terkena gempa mengalami trauma yang mendalam. Krishna merupakan salah satu mendaki yang berasal dari Bandung yang baru saja di selamatkan pada Senin 30 Juli 2018 setelah sebelumnya terjebak dilokasi gempa. Krishna sendiri menuturkan bahwa ia melihat mayat sebelum perjalanan ke Sagara Anak, yang ia lihat adalah mayat yang kondisinya kepala hancur dan kondisi yang sangat mengerikan. Krishna sendiri mengatakan bahwa ia untuk saat ini tidak akan mendaki lagi untuk sementara waktu karena atas kejadian itu ia mengalami trauma.

Krishna ini pun menceritakan bahwa ketika kejadian gempa tersebut ia sedang berkemah di Rinjani, saat kejadian tersebut ia langsung bergegas memasukan barang-barang yang hanya ia lihat saking ia terburu-burunya dan langsung naik ke atas dan di atas pun teman-temannya sudah merasa sangat panic. Ketika di atas gunung ia melihat danau yang surut dan juga beberapa bagian jalur mulai longsor.

Kemudian korban selamat lainnya adalah Gita Dwipayasantri, ia merupakan korban selamat dengan kisahnya yang membawa anak berumur empat tahun dan pergi ke tempat evakuasi, pada saat itu keadaan ia dengan anaknya dalam keadaan trauma bahkan ia sampai merasakan pusing juga muntah-muntah, anaknya pula mengalami panas demam dan pusing karena melihat kejadian diluar sana dimana bangunan-bangunan disekitarnya runtuh dengan sekejap, ia menuturkan ingin menyerah namun melihat anaknya ia berusaha bertahan dalam keadaan tersebut sampai ia bisa menuju ke tempat evakuasi korban gempa.

Ada pula Nathakan Sukum, seorang pendaki yang berasal dari Thailand yang saat gempa terjadi ia sedang berada di gunung RInjani. Ia menuturkan bahwa sangat mengerikan melihat batu-batu berjatuhan dari gunung, pemandu kami sampai berteriak-teriak meminta kami untuk cepat pergi dan berlari. Keadaan saat itu yang ia ingat mereka berlarian ada pula pendaki yang tidak bisa berlari bahkan bergerak hanya menangis.

Setelah kejadian gempa yang terjadi di Gunung Rinjani dan keadaan masih belum stabil membuat para petugas terhambat untuk mengevakuasi para pendaki yang menjadi korban gempa Lombok yang berkekuatan 6,4 skala Richter pada minggu 29 Juli 2018.

Laporan dari salah satu pemandu wisata pendakian gunung mengatakan bahwa usaha evakuasi yang dilakukan harus diberhentikan karena kondisi trek banyak yang longsor, mereka tidak berani untuk turun menuju TKP (tempat kejadian), tetapi mereka stanby di Pelawangan Sembalun.

Pada 30 Juli 2018 di daerah tersebut terlihat beberapa tebing yang mengalami longsor juga batu-batu yang berjatuhan juga pasir dan barang-barang yang ditinggal pergi oleh para pendaki. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Barat juga menyebutkan bahwa jalur pendakian tertutup material longsor. Kemudian evakuasi berlanjut untuk menyelamatkan para pendaki yang menjadi korban gempa yang bukan hanya berkewarganegaraan Indonesia juga berasal dari beberapa Negara seperti Malaysia, Thailand, Jerman juga Inggris yang dilaporkan dalam keadaan baik meski sebelumnya sempat mengalami kekurangan makanan dan minum yang sekarang di evakuasi ke desa Sembalun.

Sejumlah pendaki Gunung Rinjani juga masih berada dikawah, dan di evakuasi dengan bantuan helicopter, juga dilaporkan bahwa terdapat belasan orang yang dikabarkan meninggal dunia akibat bencana alam ini, evakuasipun tidak hanya dilakukan oleh tim penyelamat pendakian juga terdapat tim gabungan dari TNI, Polri, SAR, petugas taman nasional dan para relawan.

Leave a Reply