Dua tokoh yang dianggap bisa melengkapi ramalan jayabaya

Setelah era Presiden Joko Widodo, nama Presiden Indonesia mengerucut menjadi awalan atau akhiran Go untuk melengkapi ramalan Jayabaya ini. Ketika Pemilu 2019, muncul nama-nama besar yang digadang-gadang akan menjadi pesaing kembali. Saat ini Indonesia baru menemukan nama belakang Notono untuk melengkapi Tafsir ramalan Jayabaya. Yaitu Presiden Soekarno, Soeharto dan Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden Joko Widodo pun tidak termasuk yang diramalkan Joyoboyo. Kita pun masih menunggu nama Go atau Ga dan Ro atau Ra.

Lalu ada dua tokoh yang memiliki nama awalan atau akhiran Ga atau Go. Yaitu Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Gatot Nurmantyo, Gamawan Fauzi, Gita Wirjawan. Bahkan tokoh pers yang juga sastrawan, Gunawan Mohammad.

Dari sekian nama-nama itu, ada dua nama yang dianggap memiliki kans untuk menjadi Presiden setelah era Presiden Jokowi dan bisa melengkapi kata Go atau Ga dari tafsir ramalan Jayabaya. Simak ulasannya berikut ini.

Ganjar Pranowo

Ganjar Pranowo menjadi salah satu tokoh yang bisa melengkapi tafsir ramalan jayabaya. Lahir di Karanganyar, Jawa Tengah. 28 Oktober 1968. Ganjar menduduki jabatan Gubernur Jawa Tengah sejak 23 Agustus 2013. Sebelumnya dia duduk di kursi DPR dan Fraksi PDIP periode 2004-2009 dan 2009-2013. Dia juga menjabat sebagai Ketua Umum KAGAMA (Keluarga Alumni Universitas Gajah Mada) periode 2014-2019 berdasarkan kongres KAGAMA ynag berlangsung di Kendari.

Ganjar menempuh pendidikan Sekolah Dasar di SD Kutoarjo. Lalu melanjutkan pendidikannya di SMP 1 Kutoarjo lalu SMA BOPKRI 1 yang berada di Yogjakarta. Setelah menempuh bangku sekolah, Ganjar melanjutkan pendidikannya di Universitas Gajah Mada, Fakultas Hukum. Di bangku kuliah ini, kepemimpinannya semakin meningkat karena mengikuti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia dan kegiatan Mapagama (Mahasiswa Pecinta Alam Gadjah Mada) yang juga salah satu sub unit dari Gelanggang Mahasiswa UGM. Kegiatan inilah yang akhirnya membawanya menjadi salah satu aktivis terkemuka bersama Aries Baswedan.

Sebelum menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah, Ganjar menjadi anggota DPR RI selama dua periode, 2004-2009 dan 2014-2019. Tetapi pada periode kedua itu jabatannya tidak dilanjutkan karena terpilih menjadi Gubernur Jawa Tengah. Sebenarnya pada periode 2004-2009 pun dia tidak bisa lolos ke senayan.

Ganjar ikut mancalonkan diri sebagai Gubernur Jawa Tengah dan berpasangan dengan Heru Sudjatmoko dan diusung oleh PDIP. Mereka keluar sebagai pemenang dengan raihan suara 48,82%. Ganjar juga dikenal dengan rakyatnya dan melakukan berbagai terobosan yang cukup diapresiasi. Dia juga suka berinteraksi langsung dengan rakyat melalui akun Twitternya. Mengingat usianya yang masih tergolong muda, Ganjar masih memiliki peluang untuk menjadi pemimpin masa depan Indonesia.

Gatot Nurmantyo

Tokoh yang dianggap bisa melengkapi tafsir ramalan jayabaya selanjutnya adalah Gatot Nurmantyo. Gatot dibesarkan di keluarga yang kental dengan latar militer. Ayahnya Suwantyo merupakan pejuang kemerdekaan dan bertugas langsung bersama Gatot Subroto. Nama Gatot pun juga terinspirasi dari Jenderal Gatot Subroto.

Saat pensiun, ayah Gatot memiliki pangkat Letnan Kolonel Infanteri. Ayahnya terakhir bertugas sebagai Kepala Kesehatan Jasmani di Sulawesi Utara. Ibunya Gatot merupakan anak dari seorang yang memiliki jabatan di Pertamina cabang Cilacap. Ibu Gatot memiliki tiga kakak kandung yang juga berlatar belakang militer.

Sejak kecil, Gatot hidup berpindah-pindah. Setelah dari Tegal, ia pindah ke Cimahi hingga kelas 1 SD. Setelah itu, hingga kelas 2 SMP ia tinggal di Cilacap. Kemudian menetap di Solo hingga tamat SMA.  Awalnya Gatot ingin mendaftar ke UGM dan menjadi arsitek. Namun ibunya berkata kalau ia hendak masuk UGM, bagaimana dengan nasib adik-adiknya karena ayahnya hanyalah pensiunan.

Akhirnya ia pergi ke Semarang dan mendaftar Akabri lewat Kodam Dipenogoro. Sepulangnya dari Semarang, dia mengabari ibunya bahwa dia telah mendaftar Akabri. Ibunya sangat ingin ada salah seorang dari anaknya yang menjadi anggota RPKAD yang sekarang Kopassus. Setelah lulus dari pendidikannya di Akabri, Gatot berusaha mendaftar untuk menjadi anggota RPKAD atau Kopassus. Setelah mendaftar, ia gagal. Ketika bertugas di Pusat Latihan Tempur yang berlokasi di walayah Baturaja, Sumsel, Gatot kembali mendaftar dan gagal lagi.

Akan tetapi Gatot tidak menyerah. Pada saat ia menjabat sebagai KSAD, akhirnya ada kesempatan. Setelah acara penantikan, ia menemui Danjen Kopassus saat itu, Mayjen TNI Agus Sutomo, ia menyatakan keinginannya untuk mendaftar di Kopassus. Namun Agus Sutomo menyatakan tidak perlu ikut pendidikan dan Gatot akan mendapatkan brevet kehormatan. Gatot menolak dan ingin mendapatkan baret merah secara normal.

Akhirnya ia menjadi siswa dan mengikuti prosedur dari mulai pendaftaran, pelaksaan ujian hingga upacara penyematan brevet komando dan juga baret yang berlokasi di pantai Cilacap. Ia harus menjalani ujian yang berat, yaitu senam pukul 2 pagi, lalu berendam di kolam suci untuk Kopassus di wilayah Batujajar, longmarch dan  berenang militer selama kurang lebih 2 jam dari pantai Cilacap ke Nusakambangan.

Gatot juga menjalani Sandi Yudha, salah satunya harus masuk ke salah satu tempat yang begitu rapat dan dilakukan pengawalan dari prajurit Kopassus. Gatot dinyatakan lulus di Cilacap tanggal 2 September tahun 2014. Setelah resmi, Gatot ke Kartosuro (yang merupakan Markas 2 Grup Kopassus) dengan naik helikopter dan langsung ke makam orang tuanya. Di makam orang tuanya, ia memberi penghormatan kepada mendiang orang tuanya dan menyampaikan “Ibu, saya telah menunaikan tugas”, waktu itu Gatot berusia 55 tahun.

Itulah dua tokoh yang dianggap bisa melengkapi tafsir ramalan jayabaya sekaligus dianggap menjadi pemimpin masa depan Indonesia.

Leave a Reply