Cerita Sosok Putih di Dekat Makam Tokoh Ternama Kemederkaan Indonesia

Pada saat bulan ramadhan biasanya kampungku akan lebih ramai dari hari biasanya. Ketika kumandang sholat isya terdengar, tua muda besar kecil berbondong-bondong untuk segera pergi ke masjid.  Masjid akan terdengar lebih ramai karena anak-anak kecil yang ribut dengan temannya rebutan jajan. Alhasil orang tua akan lagi dan lagi mengomel agar anak kecil bisa diam agar ibadah sholat tetap dapat khusyuk dijalankan. Meski begitu, puasa ramadhan tetaplah akan membawa cerita tersendiri bagi masing-masing orang.

 

Seperti biasa, setelah sholat isya, aku tidak langsung pulang ke rumah. Melainkan menyempatkan waktu untuk dapat bertadarus alquran bersama teman-teman di musola dekat rumah. Paling hanya sekitar sejam, atau sekitar jam 9 nan tadarus alquran para anak-anak remaja selesai, sedangkan para bapak-bapak masih tetap meneruskan bacaan alqurannya hingga jam 10 malam. Pada malam itu, sehabis tadarus alquran, ustad dan kami merencanakan untuk berziarah kubur ke makam kyai ternama di dekat kampung. Kami sepakat untuk berangkat pada dini hari.

Sembari menunggu tengah malam, kami pun ngobrol di tempat ustad. Ya, tempat ustad memang sering kali dijadikan basecamp bagi kami para remaja kampung. Di sana kami tak hanya ngobrol basa basi saja. Kami juga kadang membahas suatu masalah hingga nantinya dapat menemukan solusi terbaiknya. Kadang, kami pun juga tertidur di rumah ustad jika menunggu acara bangun sahur tiba. Ya, di kampung kami memang sering ada acara semacam ronda pada bulan ramadhan. Para remaja biasanya akan berkeliling kampung sambil membawa alat musik sederhana untuk membangun para warga untuk tidak melewatkan sahurnya.

Akhirnya waktu dini hari tiba. Setidaknya ada beberapa makam yang akan kami kunjungi pada malam ini. Pak ustad memutuskan bahwa makam pertama kali yang akan dikunjungi adalah makam leluhur kami yang bernama mbah Kyai Haji Subkhi. KH Subkhi adalah seorang yang berjasa bagi kemerdekaan indonesia karena beliaulah yang mencetuskan pembuatan bambu runcing untuk pertama kalinya. Kami pun berbondong bondong menuju makam, meski tak dapat dipungkiri bulu kuduk tetaplah merinding karena harus pergi ke makam pada tengah malam. Tetapi karena sebuah niatan baik, aku dan teman-teman berharap kami tidak akan menemukan hal mistis di sana.

Sesampainya di kuburan KH Subkhi, kamipun langsung menunduk ke tanah. Tak ada yang berani melihat sekeliling. Palingan jikalau ada hanyalah pak ustad yang bertugas memimpin rombongan. Kamipun berbaris memasuki makam dan pak ustad tetaplah yang berada di barisan pertama. Kami segera berjongkok mengelilingi makam dan pak ustad memimpin untuk membacakan tahlil. Sayang, aku dan salah satu temanku yang ada di barisan belakang tertinggal dan akhirnya kita berdua langsung berlari menyusul ke makam. Pada saat hampir sampai ke makam, kami tak sengaja melihat ke atas pohon.  Tiba-tiba temanku langsung berbisik padaku. Aku melihat sesuatu di atas pohon.

Dalam hatiku langsung berdetak tak menentu. Apa yang engkau lihat, aku melihat putih-putih di atas pohon. Dia menatap ke arah kita. Sontak saja, aku pun mempercepat langkahku dan temanku hanya terus berucap kalimat-kalimat allah untuk menghilangkan ketakutannya. Akhirnya, pada saat berjalan pulang, dia beru bisa bercerita secara detail bahwa dia tadi melihat sesosok wanita berbaju putih sedang duduk di atas pohon. Sambil menghela napas panjang, aku berbicara dalam hati, unung saja aku tadi hanya melirik saja ke arah pohon di makam. Jika tadi aku melihat secara detail pohon tersebut, yang ada aku yang akan terbayang-bayang oleh sosok putih di kuburan dekat makam KH Subkhi.

Leave a Reply