Cerita Mistis: Teror Tangis di Rumah Tua

Suatu ketika, di sebuah kota X terdapat mahasiswa yang sedang melangsungkan PKL. Untuk mengefektifkan waktu pun mereka menginap di sebuah rumah yang cukup besar. Rumah itu, sudah bertahun-tahun tidak di huni. Hanya saja ada tetangganya yang sering membersihkan tiap pagi sehingga rumah itu tetap tampak seperti rumah pada umumnya.

Kelompok PKL itu berjumlah duabelas orang, yakni enam perempuan dan enam laki-laki. Jadi, dalam satu rumah itu ada tujuh orang. Sedangkan kamar laki-laki dan perempuan saling bertolak belakang. Rencananya mereka hanya menghuni selama seminggu saja karena hanya bertugas latihan di lapangan.

Mereka menghuni rumah itu dimulai sejak malam Selasa. Rumah itu tampak biasa, terang oleh cahaya lampu yang meredup karena bohlam jarang di ganti. Melihat keadaan itu, salah satu pemuda dengan inisiatif mengganti bohlam itu dengan yang baru.

Mereka sampai di rumah itu sekitar pukul dua siang. Setelah tiga jam menempuh perjalanan dari kampus mereka dengan mengendarai sepeda motor. Sampai di sana mereka segera menuju RT setempat untuk meminta izin menginap setelah dua hari yang lalu ketua kelompok mereka menemui ketua RT.

Malam itu, malam yang seperti biasanya. Cuaca masih panas, tapi langit cerah. Malam itu empat perempuan telah masuk ke dalam kamar. Mereka siap untuk terlelap menyimpan energi untuk keesokan harinya.

Dua dari mereka yang bernama Eni dan Ema, keduanya kembar masih berkutat dengan laptopnya karena kebetulan mereka berdua menjadi sekretaris kelompok itu. Tak terasa mereka mengerjakan tugas sampai pukul sebelas malam, empat temannya telah terlelap dalam mimpinya masing-masing.

Hari itu cuacanya cukup panas, Eni dan Ema pun memutuskan untuk menyalakan kipas angin. Ema pun mengambil dari ruang tengah lalu membawa masuk ke dalam kamarnya. Ketika ia keluar dari kamarnya, ia dikagetkan oleh kucing yang berlari kencang, serasa jantungnya mau copot.

Saat dia mau masuk kamarnya, tiba-tiba saja pintu kamarnya menutup dengan sendirinya. Ia pun kaget, karena tidak ada angin yang berembus. Kalaupun itu menutup karena angin, pasti dia merasakan angin itu menerpa wajahnya. Selain itu, pintu itu  susah dibuka butuh tenaga. Ia pun berusaha tenang, lalu masuk ke dalam kamar.

Anehnya pintu itu tertutup rapat seperti saat ada orang yang menutupnya. Akhirnya, Eni yang di dalam membuka pintunya. Mereka berdua pun melanjutkan pekerjaannya. Sesaat setelah Eni menutup word office, tiba-tiba pintu membuka sendiri. Keduanya mulai ada bibit-bibit merinding.

Mereka berdua pun mulai panik. Mereka berdua pun membangunkan teman-teman mereka yang telah tertidur, namun tidak ada yang terbangun. Akhirnya Ema memberanikan diri menutup pintu itu, lalu dikunci dari dalam.

Tidak ada dua langkah Ema meninggalkan posisi pintu, terdengar suara anak menangis. Mereka berdua pun makin merinding. Akhirnya mereka pun memaksa diri untuk tertidur sampai pun pagi telah tiba.

Kejadian ini berlangsung selama empat hari pertama. Malam pertama hanya menghantui dua orang, namun di tiga hari setelahnya semua anak perempuan kena teror dari makhluk itu.

Saat hari telah hampir malam kelima, mereka mulai merutinkan bacaan doa-doa penolak gangguan makhluk halus. Dengan berusaha mereka melawan rasa takut itu meskipun dalam hati mereka gemetaran.

Pada akhirnya di tiga hari terakhir selama seminggu menginap di sana, gangguan itu mulai hilang. Rasa takut mereka pun mulai memudar seiring dengan keberanian baru yang tumbuh.

Dari cerita di atas kita dapat mengambil hikmah bahwa makhluk halus akan semakin senang menganggu ketika kita merasa takut. Tetapi, jika kita memiliki keberanian, maka mereka juga tidak akan berani menampakkan diri karena sesungguhnya yang patut ditakuti hanyalah Tuhan Yang Maha Esa.

 

Leave a Reply