Cerita Mistis, Sesosok Pocong di Gang Kecil, Dari Mana Asalnya?

Ziarah adalah salah satu rutinitas yang tidak bisa dilewatkan pada saat mendekati puasa. Biasanya di tempat kami nyadran adalah suasana yang menyenangkan. Bagaimana tidak, pada saat acara ziarah kubur menjelang puasa tersebut, hampir setiap keluarga menghidangkan masakan enak yang berupa ingkung (masakan dengan ayam utuh). Masakan seperti itu memang sudah turun temurun dari zaman dahulu sehingga masyarakat sudah menjadikan sebagai tradisi nyadran sampai sekarang. Masakan ingkung biasanya akan dibawa ke makam dan akan disantap dengan banyak orang di sana.

Tak ketinggalan, aku pun pada saat acara nyadran akan meluangkan diri untuk pergi ke makam, datang dan mendoakan kakek, nenek serta saudara yang lebih dulu tiada. Sebelum berdoa biasanya aku dan keluarga akan membersihkan makam sampai bersih. Setelah mencabuti rumput dan menyapu makam sampai bersih, kami akan menaburkan bunga di atas pusara. Barulah doa kami panjatkan agar keluarga yang sudah meninggal senang mendapatkan kiriman doa dari kami. Bukankah yang namanya orang meninggal yang ia butuhkan hanyalah panjatan doa bukan masakan seperti ingkung dan teman-temannya?

Sebenarnya, aacara nyadrah atau ziarah ini belum selesai. Setelah rampung berziarah di tempat keluarga, ada pula yang menyempatkan waktunya untuk berkunjung ke makam-makam tokoh ternama seperti pak kyai. Dan aku pun melakukan hal yang sama. Tetapi aku dan teman-teman memutuskan untuk pergi ziarah ke salah satu makam bapak kyai pada malam hari karena pada siang harinya kami dan juga pak ustad masih sibuk dengan aktivitas masing-masing. Agar semuanya dapat ikut, akhirnya kamipun sepakat untuk pergi pada dini hari. Meski terdengar cukup menyeramkan, tetapi karena itu sudah kesepakatan, aku pun hanya berusaha mengiyakannya saja.

Saat malam hari tiba, kamipun berkumpul di dekat musola dan berangkat setelah semua anak berkumpul. Pak ustad dan rekan lainnya ternyata sudah lebih dulu pergi ke sana karena menunggu aku dan temanku yang lama. Bukan bermaksud terlambat, tetapi karena temanku mendapat panggilan alam alias kebelet, akhirnya aku menemaninya untuk merampungkan tugasnya terlebih dahulu. Meski aku sudah pernah berziarah ke makam yang dituju, tetapi pada saat malam tiba, aku tetap tidak yakin dapat menuju ke sana hanya berdua dengan temanku. Kebetulan aku memiliki teman sekolah yang rumahnya dekat dengan kuburan yang kami tuju. Aku dan temanku sudah mengetuk pintunya berulang ulang, tetapi karena hari sudah larut malam, temanku mungkin sudah tidur karena tidak juga membukakan pintunya.

Dengan langkah ragu, aku dan temanku menyusuri jalanan yang sudah mulai sepi. Yang terdengar hanyalah suara jangkrik saja. Tempat ziarah itu memasuki jalan yang begitu kecil dan sepi sehingga hatiku dibuat tidak tenang karena sudah mulai takut. Dan benar saja, sebelum sampai ke tempat yang dituju, tiba-tiba di gang kecil itu aku melihat pocong. Pocong sangatlah jelas sehingga aku berusaha berlari secepat mungkin sambil terus mengucap istighfar. Sambil berlari, aku menengok ke arah pocong tadi dan sosok itu masih ada di sana. Aku dan teman-temanku benar-benar seperti uji nyali.

Tiba akhirnya kita di jalan raya. Kami berunding apakah akan menyusul pak ustad dan rekan ke ke makam tidak. Saking ketakutannya aku, aku memilih untuk menunggu di jalan. Aku tak mau sosok pocong itu kembali menampakkan diri dan membuatku takut. Setelah setengah jam menunggu, pak ustad dan rombongan pun datang. Aku dan temanku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dan dengan tenangnya pak ustad menjawab, pocong yang tadi kami lihat hanyalah jin yang berusaha menakuti manusia, bukan pocong yang berasal dari jasad yang dipendam. Siapapun itu, yang terpenting sosok pocong itu berhasil membuatku ketakutan sampai aku tidak bisa memejamkan mata pada malam itu.

Leave a Reply