Cerita Mistis Eksekusi Mati: Kisah Pieter Erberveld Dan Kisah Hukuman Sadis Jaman Hindia-Belanda

Eksekusi mati tentu selalu menyisakan cerita mistis yang terkadang menyeramkan dan membuat bulu kuduk kita merinding. Banyak sekali cerita mistis eksekusi mati yang sudah tersebar di kalangan masyarakat sekitar. Salah satu cerita mistis terkait eksekusi mati yang cukup dikenal adalah kisah tentang Pieter Erberveld yang menjalani hukuman mati pada masa kolonial Belanda.

Erberveld seorang pejuang

Menarik untuk menyimak sosok dari Erberveld sebelum melihatnya sebagai bagian tak terpisahkan dari cerita eksekusi mati yang sangat mengerikan. Ia dilahirkan sekitar 300 tahun yang lalu dari seorang ayah Jerman dan ibu Thailand. Namun, Erberveld kecil sangat dekat dengan masyarakat pribumi atau Indonesia. Setelah kematian ayahnya, ia menerima warisan berupa tanah yang luas. Namun, ketiadaan dokumen membuat VOC merasa berhak memilikinya dan itulah yang menyebabkan pemberontakan oleh Pieter.

Pieter dan beberapa kolega merencanakan pemberontakan pada pemerintah Belanda karena tindak kesewenangan mereka pada masyarakat pribum. Namun, rencana mereka bocor dan akhirnya mereka ditangkap untuk diadili bahkan di eksekusi.

Eksekusi pecah kulit

Nasib dari Pieter Erberveld pun tidak jua beruntung. Ia termasuk orang yang kemudian dieksekusi oleh pemerintah Belanda. Bahkan, eksekusi yang ia terima merupakan salah satu cerita mistis eksekusi mati yang tidak akan pernah dilupakan oleh masyarakat hingga akhirnya kampung tempat eksekusi dinamakan kampung pecah kulit.

Cerita eksekusi Pieter memang teramat tragis. Pemerintah Belanda mengikat tangan dan kaki Pieter pada empat ekor kuda dengan posisi yang saling berlawanan. Hukuman ini disebut juga sebagai hukuman pecah kulit. Tidak hanya mengerikan, karena cara eksekusi yang sadis tersebut, tubuh Pieter terbelah menjadi empat bagian dan kepalanya dipenggal lantas kemudian ditancapkan pada sebatang tombak yang sudah disiapkan.

Hukuman patung salib

Menurut sumber terkait, cerita hukuman mati Pieter bukanlah satu-satunya eksekusi mati yang miris pada jaman kolonial Belanda. Dari beberapa sumber disebutkan bahwa jumlah orang yang dieksekusi bersamaan dengan Pieter ada 19 orang. Selain Pieter, rekan mereka pun mendapatkan cara eksekusi yang tidak manusiawi dan cenderung sangat kasar.

Ya, cerita eksekusi mati yang diterima oleh para kolega diceritakan sebagai hukuman patung salib. Para kolega Pieter dihukum dengan punggung yang di ikat pada sebuah kayu salib yang besar. Selain itu, para algojo membacok tangan kanan para tawanan hingga putus, menjemput lengan dan juga mencungkil daging kaki dan daging dada.

Tidak hanya itu, tubuh para tawanan tersebut akhirnya dibelah dari bawah ke atas. Jantung mereka di keluarkan lantas dilemparkan pada wajah mereka yang sudah sangat berlumuran darah. Akhir dari eksekusi tersebut ialah kepala mereka dipancung, tubuh dipotong-potong dan disebar di sekitar rumah mereka. Betapa kejam pemerintah Belanda pada waktu itu.

Para warga yang melihat kejadian tersebut tidak mampu berbuat banyak dan mereka hanya meratapi nasib mereka sendiri. Salah satu cerita mistis eksekusi mati ini layak untuk kita kenang sebagai pengingat kekejaman Belanda yang pernah mereka lakukan pada pribumi.

Leave a Reply