Cerita Misteri Bayangan Hitam di Jembatan Sidowayah Alas Banjarejo Mantingan Ngawi

Hari itu, bapak menyuruh aku untuk pergi ke rumah nenek di desa sebelah. Lokasinya berada di dusun pejnongko desa gentong kecamatan paron kabupaten ngawi jawa timur. Karena hari itu kosong dan baru saja memiliki sim A, tentunya aku langsung bergegas mengiyakan. Sekalian jalan-jalan dan mencoba nyetir sendiri tanpa harus didampingi bapak.

Daripada sendiri di jalan, aku ajak dua adik ku Taqien dan fatih. Bisa mengajak mereka jalan-jalan dan bertemu dengan nenek. Mereka berdua sangat gembira aku ajak pergi ke rumah nenek. Apalagi tidak ada bapak ibu, yang selalu cerewet di perjalanan. Kami berangkat sehabis shalat maghrib. Mungkin sampai di rumah nenek sekitar setengah sembilan malam.

Bapak ibu berpesan untuk hati-hati di jalan. “kalau jalan hati-hati, jangan ngebut. Apalagi jalan sudah malam dan sepi. Jangan lupa berdoa. Salam buat nenek dan budhe ya ” kami bertiga menjawab “Nggih”. Kemudian memutuskan untuk langsung berangkat. Takutnya nanti terlalu malam sampai di rumah nenek.

Di daerah ngawi masih banyak hutan-hutan yang gelap. Kata orang berkendara di malam hari, bisa bertemu hal-hal aneh. Oleh karena itu, sebelum berangkat aku berdoa terlebih dahulu. Meminta perlindungan dari yang maha kuasa. Supaya dilindungi dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Aku langsung tancap gas mobil tua milik bapak. Walaupun mobil tua tetapi memiliki performa yang bagus. Setelah melalui perjalanan cukup panjang, aku dan adik-adik sampai di rumah nenek sekitar jam 8 malam. Lebih cepat dibandingkan perkiraan, mungkin karena jalanan sepi dan aku mencoba untuk ngebut di jalanan.

Bertemu dengan nenek, kami langsung menyampaikan pesan dari bapak ibu. Kemudian kami makan sebentar di rumah nenek dan memutuskan untuk langsung pamit. Nenek sebenarnya suruh kami bertiga untuk menginap, karena sudah malam. Kita disuruh ijin ke bapak ibu dan pasti mereka mengijinkan.

“ini sudah malam, lebih baik kalian nginep dulu saja. Pagi-pagi pulang ke rumah. Bapak ibu pasti maklum ” kata nenek. Tetapi kami bertiga tetap memilih untuk pulang. Kedua adikku juga semangat untuk jalan-jalan lagi di jalan. Saat itu jam sudah menunjukan pukul sebelah malam. Memang sudah cukup larut untuk pulang. Apalagi kondisi jalan pasti sangat sepi. Tetapi keinginan kami untuk pulang lebih tinggi daripada ketakutan akan jalanan.

Nenek berpesan untuk hati-hati di jalan. ” kalian hati-hati di jalan, sudah malam. Kalau lewat jembatan sidowayah di alas mantingan, jangan lupa untuk melepas recehan lima ratusan.. dulu disana ada kecelakaan bis dan semua penumpangnya meninggal”. “ujar nenek.

Kamu pun langsung pulang dan mendengar perintah nenek. Di perjalanan semuanya aman terkendali, tidak ada hal aneh yang terjadi. Tepat jam dua belas malam, kami sampai di alas mantingan. Di sebelah fatih dan taqien terus bercanda. Tidak ada rasa takut dan lelah sama sekali.

Aku teringat pesan nenek, entah itu takhayul atau tidak. Tetapi aku mencoba mempercayainya. aku mencari uang receh 500 tetapi tidak ketemu. Fagih dan taqien pun tidak mempunyainya. ” aku nggak punya mas, adanya receh seribuan” ucap fatih.

” ya sudah kita lempar uang 1000an aja , la 500annya tidak ada” kataku. Kami pun melempar uang receh seribuan ke jembatan. Tetapi tiba-tiba ada sosok bayangan hitam yang mengikuti mobil kami, bayangan tersebut terbang tepat di belakang mobil,.

“masss tancap gas massss, aku takut ” teriak fatih kencang. Kami bertiga langsung pucat basi dan ketakutan. Entah keberanian dari mana, aku langsung mengerem mobil, berharap bayangan tersebut juga berhenti. Tetapi tiba-tiba bayangan tersebut tepat di sebelah kaca mobil. Ia mengulurkan tangannya dan berkata.

“mas ini kembaliannya tadi kebanyakan 500 rupiah.”

Leave a Reply