Cerita Mengubah Tradisi Dhukutan, 18 Bayi Jadi Tumbal Di Karang Anyar

Tradisi memang merupakan hal yang sudah dilakukan sejak lama dan menjadi kebiasaan di suatu tempat. Ada banyak tradisi yang masih dijaga dan lestari di Indonesia hingga saat ini, salah satunya adalah tradisi Dhukutan. Setiap bulan pada wuku Dhukut dan malam Selasa, di daerah Nglurah Lor dan Kidul Tawangmangu Karang anyar diadakan tradisi Dhukutan. Namun, ada kisah mengenai mengubah tradisi Dhukutan, 18 bayi jadi tumbal yang terjadi.

Tradisi ini sebenarnya dilakukan di kawasan cagar budaya Menggung yang menjadi daerah perlindungan dari Dinas Pelestari dan Peninggalan Benda Pustaka. Diperkirakan, situs ini sudah ada sebelum zaman peradaban Prabu Erlangga sebagai tempat persembahyangan Siwa Budha dan Hindu. Oleh karena itu, untuk menghormati leluhur, maka tradisi tersebut dilakukan setiap tahun.

Aturan dalam Tradisi

Sama seperti tradisi pada umumnya, Dhukutan juga memiliki beberapa aturan yang harus dilakukan. Tradisi ini merupakan wujud syukur kepada alam semesta yang sudah melimpahkan hasil bumi pertanian yang banyak. Biasanya, tradisi ini berjalan dengan lancar hingga ada peristiwa mengubah tradisi Dhukutan, 18 bayi jadi tumbal yang terjadi di medio 80an.

Untuk melakukan tradisi ini, warga sekitar mengadakan adat kecrok sekitar tiga hari sebelum Dhukutan yang dilakukan dengan menumbuk jagung hingga menjadi tepung dan digunakan untuk membuat sesaji Dhukutan. Tepat pada malam Selasa Kliwon, beberapa sesaji seperti tumpeng nasi jagung, geger sapi, sayur bhongko dan lainnya di tata rapi dan diletakkan di bangsal desa yang terletak di sekitar situs candi Menggung.

Pelanggaran yang Berujung Petaka

Kisah mengenai mengubah tradisi Dhukutan, 18 bayi jadi tumbal terjadi karena warga setempat tidak melakukan tradisi sesuai apa yang diperintahkan. Dalam tradisi Dhukutan, seluruh sesaji yang digunakan tidak boleh di masak dengan cara digoreng tetapi hanya ditanak dan dibakar saja. Juga, sesaji tersebut tidak boleh dicicipi terlebih dahulu.

Pada medio 80an terdapat kisah mengubah tradisi Dhukutan, 18 bayi jadi tumbal yang terjadi. Peristiwa tersebut terjadi karena ada warga yang menyepelekan tradisi yang sudah mendarah daging tersebut. Jagung yang biasanya menjadi bahan utama dalam tradisi diubah penggunaannya dengan beras. Selain itu, sesaji yang seharusnya ditempatkan di sekitar situs Menggung ditempatkan di luar situs dan agenda tradisi juga diadakan di lain tempat.

Akibat peristiwa yang dianggap menyalahi aturan tradisi tersebut, dalam dua bulan di kampung tersebut terjadi kematian 18 bayi serta 2 orang dewasa. Kematian yang beruntun tersebut dianggap sebagai tumbal atas kekurangajaran karena tidak menaati tradisi yang sudah berkembang sejak lama. Hal ini disesalkan oleh umat Hindu dan Budha yang menjadi pemrakarsa tradisi tersebut. Sementara seseorang yang menjadi provokator meninggal tanpa alasan yang jelas.

Tradisi dan Objek Wisata

Tradisi ini kini masih diselenggarakan oleh masyarakat setempat sebagai wujud dari rasa syukur dan usaha melestarikan kebiasaan leluhur zaman dahulu. Meskipun dianggap sebagai tradisi yang kuno di era modern seperti sekarang ini, namun adanya tradisi ini justru menjadikan keanekaragaman budaya di Indonesia senantiasa terjaga dengan baik.

Peristiwa mengenai mengubah tradisi Dhukutan, 18 bayi jadi tumbal yang terjadi di masa lampau menjadi pelajaran berharga bagi para warga di dusun setempat. Kini, mereka senantiasa melakukan tradisi sebagaimana apa yang disuruh oleh para leluhur. Dewasa ini, tradisi tersebut bukan hanya menjadi salah satu adat yang masih dijaga tetapi juga menjadi objek wisata bagi warga daerah lain yang penasaran dengan tradisi Dhukutan yang diselenggarakan oleh mayoritas orang Hindu dan Budha. 

 

Leave a Reply