Benar Atau Tidak? Mitos Larangan Pacaran Di Gunung Muria

Gunung Muria adalah tempat dimana salah satu penyebar agama islam atau walisongo disemayamkan. Raden Umar Said adalah walisongo yang disemayamkan di Gunung tersebut. Hampir setiap harinya, gunung muria tidak pernah sepi dari pengunjung karena orang-orang dari berbagai daerah datang untuk berziarah di sana. Berziarah dipercaya dapat mendekatkan peziarah pada sang pencipta. Oleh karena itu, khususnya umat muslim akan rela berdesak-desakkan dan berpanas-panasan untuk dapat berziarah di tokoh agama yang sangat berjasa bagi umat islam di Pulau Jawa.

Gunung Muria sendiri seperti daerah pegunungan pada umumnya. Di daerah tersebut, hawanya sangat sejuk sehingga pengunjung sangatlah betah berlama-lama. Sebenarnya, selain digunakan untuk berziarah, ada pula orang-orang yang sengaja datang untuk menikmati pemandangan atau berkunjung ke tempat rekreasi yang berada di sekitar gunung muria tersebut. Setidaknya, ada beberapa tempat rekreasi ternama yaitu Puncak Songolikur, hutan pinus di desa kajar dan masih banyak yang lainnya. Anda pun tidak usah heran jika banyak muda-mudi yang datang kesana hanya untuk melepas penat atau berkunjung bersama-sama orang tercinta.

Hampir setiap harinya, orang-orang dari berbagai daerah menyempatkan waktu untuk datang ke Gunung Muria. Tujuannya pun beragam. Bagi mereka yang berasal dari luar daerah biasanya akan menyempatkan diri untuk melakukan wisata religi dengan berkunjung ke makam-makam yang ada di gunung muria. Tetapi, para wisatawan domestic atau wisatawan yang berasal dari daerah sekitar malah jarang yang berkunjung ke makam. Mereka akan lebih memilih datang ke tempat-tempat yang dirasa menjanjikan suasana yang nyaman dan menenangkan.

Apalagi jika mereka adalah pasangan muda-mudi. Setiap harinya mereka akan memenuhi tempat wisata seperti hutan pinus atau tempat wisata lainnya. Karena jarak tempuhnya dekat, mereka lebih suka mengendarai motor. Bukan hanya untuk memudahkan mereka sampai ke Gunung Muria, tetapi motor juga bisa memberikan kesan romantic bagi pasangan muda-mudi tersebut. Sayangnya, menurut mitos yang beredar, ketika muda-mudi mendatangi tempat wisata kawasan gunung muria dengan pasangan, kabarnya hubungan yang mereka jalani tidak akan bertahan lama. Entah apa penyebabnya, tetapi hal tersebut sudah menjadi kepercayaan masyarakat setempat.

Jika kita lihat dari seluk beluk gunung muria sendiri, gunung tersebut bisa dianggap sebagai tempat yang suci karena disana disemayamkan tokoh penyiar agama di Kudus. Tentu saja, tempat yang suci harus dijaga dengan sebaik-baiknya agar tempat tersebut tidak ternodai hanya gara-gara perbuatan manusia. Seperti contohnya muda-mudi yang berpacaran, ketika mereka melakukan hal-hal yang diluar batas pada saat berwisata ke gunung Muria, mereka akan mendapatkan balasan setimpal karena tidak bisa menjaga suatu tempat dengan baik. Berbeda dengan muda-mudi yang datang berame-rame karena memang tujuannya berekreasi, mereka pastinya tidak akan merasakan putus dengan pasangan.

Kejadian putusnya muda-mudi setelah berwisata di gunung muria memanglah ada. Tetapi ketika muda mudi tersebut tahu batasan dalam berwisata, kejadian yang tidak diinginkan tidak akan terjadi. Meski sudah ada yang mengalami, namun jangan takut dan percaya akan hal itu. Jika tujuan ke Gunung Muria tersebut mulia, tentu saja hubungan Anda dengan pasangan tidak akan retak atau bahkan putus. Yang terpenting, sebagai pengunjung, kita harus bisa menaati norma yang ada pada tempat wisata, termasuk gunung muria agar kejadian yang tidak mengenakkan bisa dihindari. Mitos larangan pacaran di gunung muria dapat dihindari Selagi kita bisa dapat bersikap baik, maka kejadian yang sudah menimpa pasangan muda-mudi, pastilah tidak akan dirasakan oleh Anda.

Leave a Reply