Mitos Ari Ari Anak Ambar Yang Melegenda

Ketika seorang bayi lahir, ari-ari praktis menjadi barang yang tidak berguna dan dilupakan. Padahal, bayi itu tidak dapat lahir dengan selamat tanpa bantuan ari-ari. Maka kita harus memperlakukan ari-ari sebaik mungkin. Walaupun memang banyak yang tidak memperlakukannya dengan baik, bahkan membuang ari-ari seenanknya. Berbeda dengan Elvina Agustino. Dia memperlakukan ari-ari dengan istimewa bahkan melakukan ritual untuk ari-ari selama 7 hari. Bahkan dia juga mengetahui kekuatan gaib dari ari-ari anak ambar.

Ritual untuk ari-ari anak ambar

Elvina mengatakan bahwa memperlakukan ai-ari dengan baik adalah hal yang harus dilakukan oleh orang tua jika ingin memiliki anak baik. Hal yang baik harus diawali dan diakhiri dengan sesuatu yang baik pula. Begitu pula dengan ari-ari, sebagai pelindung bayi ketika masih dalam kandungan kita harus memperlakukan ari-ari dengan baik dan merupakan bakti dari orang tua terhadap jasa ari-ari.

Memperlakukan ari-ari misalnya dibungkus dengan menggunakan kain putih, diberikan kembang, disiram minyak wangi dan sebagainya. Selanjutnya, ari-ari juga bisa ditanam pada tanah yang telah dipersiapkan. Bila menjelang malam, lampu yang sudah dipersiapkan di atas timbunan tanah ari-ari itu dinyalakan. Agar telindungi, timbunan tanah itu ditutup oleh kendil yang dilubangi pada dasarnya. Pemasangan lampu ini dilakukan selama 35 hari sampai 3 bulan.

Memperlakukan ari-ari anak ambar di setiap daerah memang memiliki cara yang beragam. Hal ini terkait dengan budaya dan kepercayaan daerah tersebut. Beberapa orang percaya akan kekuatan gaib dari ari-ari anak ambar. Dan inilah alasan Elvina memperlakukan ari-ari dengan baik dan bahkan menyerap budaya Tionghoa dan Betawi.

Masyarakat Betawi memiliki kepercayaan terhadap roh anak kecil atau arwah yang sudah meninggal dan dapat diperlihara. Sewaktu-waktu, roh ini dapat menjelma menjadi wujud dan dilihat. Roh yang merupakan anak ambar tersebut biasanya disebut juga dengan el kawakib. El kawakib ini merupakan roh seorang anak yang meninggal sebelum akil baligh, anak yang meninggal di waktu lahir, anak yang meninggal saat di kandungan atau keguguran. Bisa juga berupa ari-ari yang menyertai saat baru lahir. Inilah yang dipercaya sebagai perwujudan dari ari-ari anak ambar.

Tradisi memelihara anak ambar juga terdapat pada budaya Tionghoa. Mereka memelihara anak ambar untuk mendapatkan keberuntungan. Sedangkan orang Betawi demi menjaga keseimbangan spiritual.

Cara ritualnya seperti yang dijelaskan Elvina, dia menyiapkan kain mori putih, ari-ari dimasukkan ke dalam kain putih baru disiram dengan minyak wangi secukupnya. Ada yang ditanam ke tanah atau dilarung ke sungai dan laut bahkan digantung di tiang rumah. Elvina juga telah mempersiapkan sebuah boneka kecil. Boneka inilah yang digambarkan sebagai anak ambar, karena boneka itu merupakan tempat dari anak ambar.

Semua bahan yang digunakan ritual juga tidak sembarangan. Garam simbol kehidupan. Uang menggambarkan harapan. Jarum menggambarkan pikiran tajam sang anak. Beras merah agar tidak pernah kekurangan pangan. Kertas bertuliskan rajah agar anak cerdas dan beragama. Sirih agak anak tumbuh sehar dan kuat serta mendapatkan jodoh yang ideal. Semuanya dimasukkan dalam mon putih.

Elvina juga mengatakan, ritual untuk ari-ari ini memang ada perbedaan. Karena manusia memiliki kepercayaan dan pikirannya masing-masing. Namun ada manfaatnya. Seperti boneka anak ambar yang dia buat, bisa dimanfaatkan untuk memanggil orang yang pergi. Anak ambar juga bisa digunakan untuk membantu usaha dan bisnis, sampai masalah jabatan.

Itulah kepercayaan dan mitos mengenai ari-ari anak ambar yang diyakini oleh Elvina.

Leave a Reply