Kisah Misteri Kera Siluman Pesugihan Bukit Kera

Di Negara kita, kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berbau mistis bisa dibilang masih cukup tinggi. Ada beragam cerita mistis yang beredar di berbagai daerah di Indonesia. Salah satu kisah misteri yang ada adalah kisah mengenai kera siluman yang ada di bukit kera. Bukit kera banyak dijadikan sebagai tempat pesugihan bagi oknum-oknum tertentu yang menginginkan kekayaan atau hal lainnya melalui cara yang instan. Ada sebuah cerita yang menyebutkan bahwa di bukit itu dihuni oleh kera jadi-jadian atau yang biasa disebut siluman kera.

Kisahnya bermula dari seorang pria pemalas yang mendambakan kesenangan hidup namun enggan untuk bekerja keras untuk memperolehnya. Pria tersebut bernama Kasan. Dia adalah anak dari Madsari yang berprofesi sebagai nelayan. Meski terbilang miskin, Madsari masih mampu menyekolahkan anaknya walaupun hanya sampai lulus SMP. Kedua kakak Kasan sudah menyelesaikan sekolahnya sampai lulus SMP, namun si Kasan ini tidak mau mengikuti jejak kakak-kakaknya. Dia hanya bersekolah sampai kelas 3 SD. Dia berpendapat bahwa sekolah tidaklah penting. Dan lebih baik dia bermain daripada harus jauh-jauh pergi ke sekolah yang jaraknya 1 km dari rumahnya. Pekerjaannya sehari-hari hanya bermalas-malasan dan bermain. Kini ia pun tidak mau membantu ayahnya lagi.

Karena bekal ilmu yang dimilikinya sedikit, Kasan tumbuh sebagai seorang pria yang bebal dan pemalas. Ia hanyalah seorang pengangguran yang banyak menghabiskan waktunya untuk nongkrong bersama teman-temannya. Padahal sudah jelas bahwa orang yang menginginkan hidup senang haruslah bekerja keras. Kasan melihat seorang tetangganya bernama Babah Aliong yang kaya raya. Padahal menurutnya, tetangganya itu tidak pernah bekerja. Dengan pikirannya yang sempit, Kasan menyimpulkan bahwa untuk menjadi kaya tidak perlu bekerja keras. Padahal dasar Kasan saja yang tidak tahu bahwa Babah Aliong mempunyai pabrik penggilingan beras yang dikelola anaknya.

Cerita Mistis Ritual Pesugihan Bukit Kera untuk Kera Siluman

Kasan sering mengunjungi bukit kera yang konon dihuni oleh kera siluman itu. Ia kesana untuk sekedar mengintip orang berpacaran. Bukit itu dinamai bukit kera bukan tanpa alasan. Banyak sekali kera berkeliaran disana, entah itu kera asli atau kera jadi-jadian. Kebodohan Kasan itu dimanfaatkan oleh iblis. Dengan menyamar sebagai kakek tua, iblis berusaha mempengaruhi Kasan untuk melakukan hal-hal yang dilarang agama. Ia berbohong dan membenarkan dugaan kasan mengenai kekayaan Babah Aliong yang merupakan hasil dari cara instan. Dan kakek tua itu menawarkan kekayaan yang sama kepada Kasan dengan syarat tertentu.

Iblis itu meminta Kasan untuk melakukan ritual pesugihan di bukit kera itu. Dia juga harus menyiapkan tumbal dalam ritualnya. Karena kebodohannya dan kemalasannya, ia dengan mudah tertipu oleh bujukan itu dan bersedia melakukan sesuai yang diperintahkan sang kakek tua jelmaan iblis. Parahnya lagi ia menjadikan ibunya sendiri sebagai tumbal. Ibunya meninggal dengan cara yang janggal. Awalnya ia sedih atas kepergian ibunya, namun kesedihan itu larut begitu saja dalam kesenangannya memperoleh kekayaan dan seorang istri cantik yang selama ini diinginkannya.

Namun siapa bilang semua hal itu akan membuat Kasan bahagia. Ia tak menyadari bahwa perempuan yang dinikahinya adalah jelmaan dari seekor kera siluman. Setelah menikah Kasan harus menghabiskan semua tenaganya untuk melayani kebutuhan biologis istri jelmaannya itu setiap hari. Karena itu, Kasan menjadi kurus kering dan loyo tanpa tenaga. Tak hanya itu, setelah tak mampu lagi melayani istrinya. Wanita itu menghilang begitu saja tak tahu kemana. Begitulah kisah misteri pesugihan bukit kera. Sebagai manusia yang mempunyai akal, kita dapat mengambil pelajaran dari kisah ini. Orang yang ingin memperoleh kebahagiaan dalam hidup harus bekerja keras dan harus memiliki iman yang kuat agar tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang menyesatkan.

 

Leave a Reply