Anak Dikaki Gunung Merbabu Dan Sindoro Berambut Gimbal? Kutukan Atau Anugrah?

Bagaimana bisa seorang anak tiba-tiba memiliki rambut gimbal? Banyak orang awam yang beranggapan bahwa rambut tersebut secara sengaja dibuat layaknya artis Bob Marley ataupun Mbah Surip. Namun kenyataannya anggapan tersebut salah besar. Pasalnya anak berambut gimbal tersebut merupakan fenomena alami yang terbilang misterius di wilayah daratan Tinggi Dieng dan juga di kawasan lereng Gunung Merbabu dan Gunung Sindoro (Wonosobo).

Masyarakat setempat mempercayai bahwa anak berambut gimbal tersebut tidak lah mendapat hukuman atau kutukan. Malah sebaliknya, para orang tua yang anaknya berambut gimbal merasa mendapat karunia atau anugerah dari para dewa. Para orang tua tersebut juga bersyukur bahwa anaknya tersebut merupakan titipan dewa karena merupakan keturunan sang dewa. Oleh karena itu, orang tua anak berambut gimbal akan memberi perhatian ekstra pada anaknya. Dengan demikian apapun permintaan sang anak akan dituruti, sehingga tidak heran jika anak yang berambut gimbal memang lebih manja dibandingkan anak lainnya yang tidak gimbal. Tidak hanya itu, biasanya anak berambut gimbal ini juga lebih tahan dengan berbagai penyakit. Hanya saja ketika malam jumat, anak berambut gimbal ini sering rewel dibanding anak-anak lainnya. Walaupun sebenarnya anak berambut gimbal ini tidak memiliki perbedaan dengan anak normal lainnya, suka bermain dan melakukan kegiatan sehari-hari.

Sebenarnya anak berambut gimbal ini, saat lahirnya sama seperti anak lainnya.Dimana munculnya rambut gimbal tersebut biasanya ketika sang anak berusia satu tahun. Munculnya rambut gimbal pun tidak disertai gejala tertentu. Perubahan rambutnya pun terjadi secara mendadak. Bisa dikatakan saat akan tidur rambutnya masih normal, namun ketika bangun tidur tiba-tiba rambutnya sudah menjadi gembel. Anak yang berambut gimbal tersebut pun juga sering mencuci rambut, namun tidak menyisir dan dipotong. Pasalnya ketika dipotong belum tepat waktunya, maka anak berambut gimbal akan gampang sakit-sakitan dan rambutnya akan tumbuh gimbal lagi. Dan yang lebih ngeri, ketika rambut gimbal belum saatnya dipotong terdapat kepercayaan bahwa keluarganya akan mengalami suatu bencana.

Rambut gimbal tersebut dapat dihilangkan ketika sang anak yang memintanya sendiri. Biasanya sang anak akan mengajukan suatu permintaan kepada orang tuanya yang harus dipenuhi. Terkadang apa yang diminta sang anak berambut gimbal cukup sepele hanya sebuah mainan atau makanan, namun ada juga permintaan yang memberatkan orang tua nya. Terdapat sebuah cerita bahwa dulunya ada juga anak yang berambut gimbal yang membuat permintaan untuk memotong kepala ayahnya. Tentunya hal tersebut tidak dilakukan oleh orang tuanya, namun pada akhirnya anaknya lah yang berambut gimbal tersebut yang meninggal.

Ketika permintaan telah dipenuhi oleh orang tuanya, untuk bisa menghilangkan rambut gimbal secara tuntas, orang tuanya harus mengadakan acara ruatan. Dimana dalam upacara tersebut terdapat sesaji yang menjadi sebuah pemohonan petunjuk dan keselamatan bagi perjalanan hidup yang anak. Untuk mengadakan acara ruwatan tersebut memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sehingga tidak heran, diwilayah Dieng untuk melakukan ritual potong gombak tersebut bersamaan. Pasalnya ritual potong gombak tersebut membutuhkan uang yang tidak sedikit. Untuk menjalani ritual tersebut, orang tua harus menyiapkan berbagai sesaji seperti Kambing, Ayam, telur dan berbagai pagelaran seni.

Dalam ritual potong gombak anak berambut gimbal diawali dengan memohon ijin pada sang maha kuasa untuk memotong rambut. Kemudian sang dukun akan mencukur habis rambut si anak berambut gimbal. Hal tersebut bertujuan untuk membersihkan lahir dan batin dari pengaruh jahat. Rambut yang telah dipotong diberi mantra dan dilarung. Tentunya sampai saat ini belum ada penelitian ilmiah atau medis yang bisa membuktikan bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Namun bagi ahli antropolo hal tersebut merupakan suatu hal yang bernilai bagi kebudayaan indonesia yang bisa dipertahankan atau menjadi potensi pariwisata.

Leave a Reply